KALABAHI,RADARPANTAR.com-Rata-rata kondisi jalan poros dua kecamatan di Pulau Pantar yakni Pantar Timur dan Pantar sudah sangat memprihatinkan tingkat kerusakannya. Lapen yang dibangun puluhan tahun silam hanya tinggal ceritera. Aspalnya ludes termakan usia, sisanya tergerus banjir. Tinggal kerikil yang bertaburan di badan jalan. Tak hanya itu, beberapa dermaga laut juga tidak layak difungsikan. Beberapa diantaranya sejak awal setelah dibangun tidak bisa difungsikan hingga kini. Yang lain difungsikan setelah dibangun beberapa waktu tetapi kondisinya sudah rusak berat. Akibatnya, sangat menyulitkan angkutan barang dan orang (penumpang) yang menggunakan perahu motor dari dan ke Kalabahi dengan dermaga-dermaga dimaksud.

Anak-anak sekolah harus gotong royong mengangkut sepeda motor melintasi kali dari dan ke sekolah jika air laut naik melampaui kali. Belum lagi jika datang banjir pada musim hujan. Kondisi ini ada di ujung Bakalang Desa Batu menuju Tuabang. FOTO:FB
Jalan Ruas Nuhawa-Tamalabang-Bakalang-Tuabang-Lamahule-Munasely-hingga Pandai menuju Kabir,Ibukota Kecamatan Pantar sangat memprihatinkan. Kondisi jalan sudah sangat parah tingkat kerusakannya. Jalan jenis lapen yang dibangun puluhan tahun silam, kini hanya tinggal kenangan.
Aspalnya sudah termakan usia, tergerus banjir sehingga menyisahkan kerikil kosong yang bertaburan di badan jalan. Kondisi jalan yang mengalami kerusakan yang hebat ini sangat rentan mengakibatkan kecelakaan oleh para pengguna kendaraan jika kurang berhati-hati menyetir kendaraan.
Yang sangat disayangkan, jalan termasuk jembatan Nule yang rusak akibat Badai Seroja 2022 silam juga belum dibangun kembali. Padahal sudah dikeluhkan warga di Desa Nule, Kecamatan Pantar Timur karena di seberang jembatan yang rusak itu ada fasilitas umum seperti rumah ibadah (gereja), sekolah (SD) dan dermaga. Sementara penduduknya sebagian besar ada di seberang jembatan.
Akibatnya, warga terutama anak-anak sekolah yang harus menyeberang jembatan menuju sekolah dan gereja mengalami kesulitan jika terjadi banjir di kali Nulle pada musim hujan. Kondisi memprihatinkan ini sudah dialami beberapa tahun oleh warga di wilayah itu, tetapi pemerintah dan wakil rakyat yang mewakili wilayah itu menganggap tidak ada masalah.
Selanjutnya, sebuah kali kecil di ujung Bakalang menuju Tuabang juga sudah rusak gorong-gorong beberapa tahun silam. Berulang-ulang kali dikeluhkan warga karena sangat menyulitkan warga, terutama anak-anak sekolah pada saat pergi dan pulang sekolah, saat datang banjir di musim hujan dan air laut pasang menembus kali itu.
Di Dermaga Abangiwang, Desa Bunga Bali, Kecamatan Pantar Timur misalnya, satu-satunya dermaga yang digunakan warga desa itu tidak dapat difungsikan untuk mengangkut orang dan barang jika air laut surut. Kondisi ini berlangsung sejak dermaga itu dibangun belasan tahun silam hingga kini karena badan dermaganya terlalu pendek tetapi dibiarkan begitu saja.
Bila perahu motor mengangkut orang (penumpang) dan barang ketika surut air laut di dermaga itu maka penumpang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk ongkos jasa perahu tangan milik warga yang mengangkut penumpang dan barang bawaan menuju perahu motor dan sebaliknya yang berada di kurang lebih 20 meter dari dermaga.
Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, tetapi tidak ada satupun pejabat daerah yang memiliki niat baik untuk membantu masyarakat pengguna jasa dermaga itu mengeluarkan mereka dari kesulitan.
Sedangkan di Dermaga Tamalabang Desa Keleb, Kecamatan Pantar Timur saat ini para juragang Perahu Motor dari dan ke Kalabahi-Tamalabang harus menghitung gelombang ketika mengangkut orang dan membongkar barang muatan di dermaga itu.
Dermaga itu sudah dibantu PT PP (saat mengerjakan rumah badai seroja) beberapa tahun silam mengokvol untuk perpanjang badan pelabuhan menuju kedalaman laut tetapi belum mendapatkan perhatian dari pemerintah dan DPRD Alor untuk melanjutkan pembangunan hingga saat ini.
Disaksikan media ini, anak buah dan juragang perahu motor mengalami kesulitan mengangkut barang (kendaraan roda dua) terutama dari dermaga ke dalam perahu motor dan sebaliknya dari perahu motor ke dermaga ketika air laut surut. Karena harus melewati bebatuan berukuran besar sehingga mereka harus berhitung dengan tepat, jika tidak maka barang yang diangkut bisa saja jatuh ke dalam luat.
Di Dermaga Nule Desa Nule, Kecamatan Pantar Timur punya cerita lain. Dermaga itu mengalami rusak berat setelah rampung dibangun beberapa bulan di jaman ketika Drs. Simeon Pally menjadi Bupati Alor.
Sayang, dermaga itu rusak berat dan dibiarkan menjadi tidak terurus hingga saat ini. Sama dengan Dermaga Tamalabang, di Pelabuhan Nule juga anak buah perahu motor harus beradu nyali dengan ganasnya gelombang di perairan laut itu ketika melakukan bongkar muat. *** morisweni






