KALABAHI,RADARPANTAR.com-Ini sejatinya perasaan hati sesepuh Alor Irjen Pol. (Purn) DR. Johni Asadoma yang saat ini didaulad rakyat menjadi Wakil Gubernur NTT. Asadoma mengaku malu mendengar jika tawuran antar kampung kembali pecah. Seolah orang Alor tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama, kecuali tawuran dengan kampung tetangga.

Wagub NTT, Wabup Alor dan sejumlah pejabat daerah dalam satu sesi foto bersama guru dan siswi SMKN 1 Kalabahai usai makan malam di SMA Katholik St. Joseph Kalabahi. FOTO:MW/RP
Kalau kerja sedikit-sedikit perang antar kampung, sedikit-sediki ambil parang, ambil panah, ini daerah akan terkebelakang terus, kita tau mau begitu kan. Mari kita jaga dan bangun daerah ini tanpa tawuran menuju kehidupan yang lebih baik, kata Asadoma di sela-sela jamuan makan malam usai membuka kegiatan Gebyar SMA-SMK dan Panen Lokal di SMA Santu Yoseph Kalabahi, Selasa 28 April 2026.
Didampingi Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo, SH, MH, Anggota DPRD Provinsi NTT, Soleman Gorangmau, Pastor Paroki Gereja Yesus Gembala Yang Baik Kalabahi, Romo Ambros Ladjar, Pr, Pejabat Pemerintah Provinsi NTT, Pj. Sekda Alor, Obeth Bolang, S.Sos, M.AP, dan sejumlah Pejabat Pemkab Alor, mantan Kapolda NTT itu menegaskan, karakter masyarakat harus kita rubah, harus kita rubah dari bawa. Makanya saya bilang orang tua, gereja, mesjid, tokoh agama, tokoh masyarakat harus mulai dari sekarang memberikan bimbingan, tuntunan, arahan, pengawasan kepada anak-anak muda.
“Kepada anak-anak muda stop, saya mohon. Stop perang antar kampung, tidak ada gunanya, itu hanya bekin celaka orang atau mungkin suatu waktu dirimu akan celaka, dirimu akan kena panah, dirimu akan kena bacok, saudara mu akan kena ancaman … siapa yang rugi. Terus kita mau bekin Alor ini tabakar semua? Kita pengin Alor ini maju, sejahtera, pembangunan bagus,” ujar Asadoma.
Dijelaskannya, orang asing itu datang ke Alor mau cari ketenangan disini, bukan datang mau lihat orang baku ribut di pinggir jalan. Saya sedih kalau dengar di Kupang, Alor ribut ada berkelahi antar kampung. Seola-ola Alor ini tidak bisa melakukan sesuatu selain hanya bisa berkelahi.
“Saya minta stop tawuran. Semua elemen membimbing anak-anak kita agar berhenti tawuran. Jika tidak maka bagaimana Kabupaten Alor bisa maju,” tegas Wagub Asadoma.
Ditambahkan Asadoma, tawuran antar kampung ini mengakibatkan Kabupaten Alor tidak bisa maju. Alor dikenal sebagai primadona pariwisata, namun akibat gangguan keamanan atau tawuran ini orang takut datang ke Alor.
Asadoma menegaskan datang ke Alor untuk menghadiri perayaan 100 tahun injil masuk di Warsalelang, di desa Mawar , Kecamatan Pantar Timur. Kemudian menuju ke pulau Treweng untuk mengunjungi masyarakat disana, selanjutnya berkunjung ke Kecamatan Pureman, dan malam ini membuka festival seni atau gebyar SMK dan Panen Lokal SMA. Sebagai pemerintah, kata Wagub Asadoma,
Ia datang melihat secara langsung kondisi masyarakat, persoalan yang ada dimasyarakat, tantangannya apa, dan berupaya mencari jalan keluar atau mencari solusi. Sebagai Pemerintah, kami inginkan semua permasalahan masyarakat itu bisa dicari solusi, baik infrastruktur jalan, air, listrik, jaringan komunikasi, pendidikan, dan kesehatan. Kami ingin semuanya bisa terbangun dengan baik, hanya karena kemampuan keuangan negara, propinsi dan kabupaten terbatas. Sehingga dalam perhatiannya kami melihat dengan pola selektif prioritas.
Pemerintah tidak akan tutup mata, tidak akan diam diri, dengan segala daya upaya pemerintah akan berupaya untuk bisa memenuhi segala keperluan, kebutuhan dari masyarakat, ujarnya.
Mantan Kapolda NTT ini pemerintah menyadari bahwa kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah belum mungkin tuntas dalam waktu 1 tahun. Tetapi pemeintah tidak akan tutup mata, tidak tutup diri dan dengan segala daya upaya berusaha penuhi kebutuhan masyarakat. “Kami minta masyarakat kerja keras atas potensi yang ada pertanian, perkebunan untuk hasil maksimal. Begitu juga sektor perikanan dan pariwisata.
Khusus tentang pariwisata demikian Wagub Asadoma, butuh betul-betul kerjasama semua masyarakat di daerah ini. Alor sudah dikenal sebagai primadona pariwisata. Semua orang ingin datang tetapi masalahnya keamanan di Alor ini sangat mengganggu, orang takut mau datang ke Alor.
Tiap hari ada perang antar kampung, setiap ada masalah bukan diselesaikan secara musyawarah mufakat, maunya perang, ambil parang, ambil panah. “Ini bukan cuma hanya orang dari luar saja yang takut, kita masyarakat Alor juga takut panah, hidup dalam suasana yang mencekam, jalan malam terasa tidak aman, keamanannya tidak terjamin. Padahal katanya Alor ini kabupaten yang religius, banyak gereja, banyak mesjid. Ini harus ditunjukan dalam sikap prilaku yang baik, santun agar bisa memajukan daerah ini,” jelasnya menambahkan.
Menurut dia, kalau pariwisata kita maju, semua pembangunan di daerah ini bisa dibangun. Sebagai contoh, di Bali, Kabupaten Badung yang merupakan pusat pariwisata Bali dengan jumlah penduduk 500 ribu orang namun PAD nya Rp. 7,5 Triliun. Disana karena pariwisata dapat PAD besar daerahnya maju, jalan licin, sekolah dan bangunan yang megah dan rumah penduduk yang bagus, karena masyarakat dukung penuh, hidup dengan damai.
Menurut Wagub Asadoma, kondisi keamanan disana aman dan kondusif, ada pacalang. Jika ada masalah, kalau pacalang turun semua aman. Masyarakat menjaga keamanan turis atau wisatawan yang dating. Masyarakat menjaga keamanan seluruh warga di Badung.
“Kita di Alor ini primadona pariwisata yang sudah berkembang ini jangan sampai layu sebelum berkembang. Kita semua harus jaga. Saya mohon para orang tua, guru, gereja, mesjid membina, menuntun, mendidik, membimbing anak-anaknya agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang destruktif, tindakan yang merusak, tindakan yang mengancam yang dapat membahayakan keselamatan jiwa orang lain,” kata Asadoma. *** morisweni






