Akhir-akhir ini, beranda media selalu menyuguhkan kabar tentang perselisihan, pertikaian bahkan sampai berujung kematian. Nusa Kenari, Tanah yang biasanya dikenal dengan keramahannya, belakangan ini kerap diwarnai oleh konflik antar saudara.
Perselisihan yang bermula dari hal-hal sepele, tak jarang berujung pada pertikaian fisik yang fatal hingga merenggut nyawa. Di titik ini, kita perlu bertanya : Ke mana perginya semangat *Tara Miti Tominuku*? Saya teringat Slogan Tara Miti Tominuku yang kemudian disyairkan dalam lirik-lirik lagu dan menggema bahkan membumi melalui Instrumen Kolaboratif yang sangat terkenal bahkan dimana saja Lagu Tara Miti Tominuki, Cipt : Jhoni Mowata, diperdengarkan semua akan membentuk lingkaran Lego-lego. Ke mana hilangnya kesadaran bahwa kita adalah satu rahim budaya?
Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, ada satu warisan leluhur yang sejatinya menyimpan kunci rekonsiliasi : ” Tari Lego-lego “
Lebih dari Sekadar Gerakan
Selama ini, kita mungkin terjebak melihat Lego-lego hanya sebagai pelengkap seremonial atau atraksi wisata. Padahal, jika kita selami lebih dalam, setiap hentakan kaki di atas tanah dalam lingkaran tarian ini adalah sebuah pernyataan politik dan sosial yang sangat kuat.
Lego-lego adalah simbol kolektivitas mutlak. Dalam lingkaran itu, tidak ada kasta, tidak ada sekat agama, dan tidak ada batas status sosial. Semua tangan saling bergandengan, mengunci satu sama lain dalam posisi yang sama rendah dan sama tinggi. Pesannya jelas : Jika satu orang goyah, maka lingkaran itu akan rapuh. Jika satu orang menarik diri, harmoni akan terganggu. Dalam Tari Lego-lego ada Pantun Bersahutan.
Salah satu esensi paling krusial dalam Lego-lego adalah lantunan pantun yang bersahutan. Ini bukan sekadar pamer ketangkasan kata, melainkan sebuah metode resolusi konflik yang sangat beradab. Leluhur kita telah mengajarkan bahwa perbedaan pendapat dan ketegangan harus diselesaikan dengan dialog, dengan saling menyahut secara teratur, bukan dengan saling berteriak atau menghunus senjata.
Dalam balasan pantun, ada proses mendengar sebelum menjawab. Ada proses menghargai kata-kata lawan bicara sebelum kita melontarkan kalimat balasan. Jika semangat ini kita bawa ke luar dari arena tarian dan kita terapkan dalam kehidupan bertetangga di Alor, maka ruang-ruang dialog akan terbuka lebar, menggantikan kepalan tangan yang selama ini mendahului logika.
Tarian Lego-lego dilakukan mengelilingi Mesbah (tradisi nenek moyang : batu susun keramat) yang melambangkan pusat spiritualitas dan kesucian. Menggaungkan kembali Lego-lego berarti mengembalikan fokus hidup kita pada nilai-nilai luhur tersebut. Konflik yang berujung maut seringkali terjadi karena kita kehilangan pusattersebut ; kita kehilangan rasa hormat pada kemanusiaan dan sejarah yang mengikat kita.
Penutup : Menghadapi situasi konflik di Alor, kita tidak hanya butuh pengamanan ketat dari aparat, tetapi kita butuh pemulihan kultural. Kita perlu menggaungkan kembali Lego-lego di sekolah-sekolah, di balai desa, hingga ke sudut-sudut kampung yang sedang berselisih.
4
Mari kita hentakkan kaki lagi, bukan untuk menginjak martabat sesama, melainkan untuk mengingatkan bumi bahwa anak-anaknya masih ingin bersatu. Mari kita saling menggandeng tangan lagi, bukan untuk saling menahan, tetapi untuk saling menguatkan.
Sebab di dalam lingkaran Lego-lego, tidak ada ruang bagi kebencian. Yang ada hanyalah irama yang satu, suara yang menyatu, dan sebuah janji bahwa Nusa Kenari akan tetap menjadi rumah bersama, rumah yang damai, rumah yang harmoni bagi semua.





