Buka Pelatihan Esensi Modul EAFM, Sekda Alor: Silakan Nelayan Tangkap Ikan Tetapi Harus Jaga Keseimbangan Ekosistim

Sekda Alor Melky Belli, S.Sos, M.Si (kedua dari kanan) sedang memberikan sambutan. FOTO:OM MO/RP

KALABAHI,RADARPANTAR.com-Buka Pelatihan Esensi Modul Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) bagi Kelompok Kerja (Pokja) Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan Kabupaten Alor, Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Melky Belli, S.Sos, M.SI mempersilakan nelayan Alor untuk menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tetapi harus menjaga ekosistim laut dengan cara tidak merusak biota laut.

Dari 175 Desa/Kelurahan di Kabupaten Alor, kalau 110 itu adalah desa pesisir maka kita bisa mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat berada di wilayah pesisir. Dan karena sebagian besar masyarakat kita berada di wilayah pesisir, maka upaya pemerintah agar bagaimana menghidupi masyarakat di wilayah pesisir harus dengan model penanganan yang berbeda, tidak bisa kita samakan dengan masyarakat yang ada di gunung, ada di lemba, pinta Melky Belli ketika membuka Pelatihan Esensi Modul Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) bagi Kelompok Kerja (Pokja) Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan Kabupaten Alor di Kalabahi, Rabu (17/06/2026).

Bacaan Lainnya

Berbagai hal yang selama ini kita gumuli masing-masing, yang kita tangani secara sendiri-sendiri, propinsi menangani sendiri, kabupaten menangani sendiri, teman-teman dari WWF datang bersama-sama dengan kita tetapi karena terbatas komunikasi, maka kita bersepakat bersama untuk membentuk apa yang kita sebut dengan Kelompok Kerja (Pokja) Pengelolaan Perikanan dan Kelauatan 2025-2029, sebutnya.

Menurut dia, Pokja ini akan bekerja bersama untuk merumuskan hal-hal yang terkait dengan bagaimana kehidupan masyarakat pesisir. Jadi, bicara tentang EAFM ini sebenarnya pendekatan pengelolaan perikanan yang berfokus pada upaya agar masyarakat nelayan meningkatkan hasil hasil tangkapannya tetapi tetap menjaga keseimbangan ekosistim. Memperhatiakan aspek ekonomi sosial budaya dan tata kelola.

“Masyarakat kita biarkan, silakan tangkap ikan, maka kemudian hari ini kita masih melihat bahwa ada pola penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan aturan. Ada pengeboman di mana-mana. Ada tangkap ikan dengan alat-alat yang sesungguhnya tidak layak, dilarang, itukan sering terjadi,” ujar Belli sambil menambahkan, karena itu, silakan kita berikan kesempatan kepada nelayan untuk menangkap ikan, tetapi harus diingat juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan ekosistim. Pendekatan ini terangnya, mengajarkan bahwa pemanfaatan sumber daya laut harus dilakukan secara bijaksana, agar stok ikan tetap lestari dan lingungkan perikanan juga tetap sehat.

Di satu sisi kita memberikan ruang kepada nelayan untuk menangkap ikan tetapi disisi lain kita berupaya untuk harus jaga ekosistim. Artinya, ketika kita menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup ekonomi masyarakat nelayan, tetapi disisi yang lain nelayan mesti bertanggung jawab juga untuk melestarikan ekosistim, untuk kepentingan anak cucu, pungkasnya.

Pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada semua kita yang selama ini bergerak, WWF sudah cukup membantu, teman-teman di perikanan dan Bapperinda untuk terus berdiskusi menghasilkan model Pokja dan hari ini kita coba berdiskusi tentang fungsi kita masing-masing, kita mau buat apa sehingga sasaran dari program ini bisa terlaksana, yakni tetap menjaga keutuhan ekosistim laut yang ada di perairan kita.

Sekda Alor menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada WWF dan LSM lainnya yang selama ini konsisten bekerja sama dalam berbagai aspek pemberdayaan kemasyarakatan. Saya mengajak LSM-LSM lain untuk terus mendukung program pemerintah daerah demi kesejahteraan rakyat di bumi Alor tercinta, pintanya mengajak.

Lebih lanjut disampaikan Belli bahwa kehadiran seluruh elemen dalam pelatihan ini merupakan wujud nyata komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan. Sasarannya adalah agar sumber daya ikan, kesehatan ekosistem perairan, serta aspek sosial dan ekonomi masyarakat pesisir dapat lebih terukur dan dikelola dengan baik.

“Melalui simulasi penerapan dan analisis EAFM yang dilakukan dalam pelatihan ini, saya berharap dapat menghasilkan pembaruan nilai EAFM Kabupaten Alor sebagai gambaran terbaru kondisi pengelolaan perikanan pada masing-masing domain penilaian,” tambahnya.

Sekda Alor dan Ketua DPRD Alor bersama pimpinan OPD dan Pimpinan Perguruan Tinggi dalam satu sesi foto bersama. FOTO:OM MO/RP

Site Coordinator For Alor MPA, Yayasan WWF Indonesia Yoga Sultan Fayra mengatakan, WWF Indonesia sudah ada di Alor 2006 atau sudah 20 tahun aktif secara berkala dalam pendampingan masyarakat di beberapa desa untuk meningkatkan kapasitas.

Di Kelurahan Kabola, Desa Lewalu, Desa Ampera bahkan di Teluk Mutiara, di Baranusa kita sudah berkala melakukan pendampingan dan peningkatan kapasitas, dan juga legalitas, kata Fay demikian Yoga Sultan Fayra karib disapa.

Dijelaskan Fay, terkait dengan kajian untuk mendukung dalam hal kebijakan dan beberapa kajian lainnya untuk mengsuport taat kelola perikanan di Kabupaten Alor.

Saya berharap dalam dua hari ini kita dapat berdiskusi, bagaimana salah satu tujuan dari kegiatan kita selam dua hari ini adalah saling sering bagaimana nanti akan ada penyampaian, materi atau terkait konsep pengelolaan perikanan berbasis ekosistim atau teknis seperti apa yang akan dibantu oleh Pak Dony salah satu Dosen Perikanan dari Fakultas Kelautan dan Perikanan UKAW Kupang dan dari Dosen UNTRIB Kalabahi, DR. Javed Maro, pintanya.

Kita akan sharing dan simulasi, kita menilai pengelolaan atau tata kelola perikanan di Kabupaten Alor itu sudah berapa skornya. Kita pengin tau dari semua aspek, ekonomi, dari segi ekosistim, kelembagaan dan lain sebagainya. Skor-skor ini sudah kami lakukan bersama Beperida dan dari tahun 2012. Jadi, setiap tahun kita lakukan penilaian secara rutin, sehingga kita tau di bagian mana yang ibaratnya merah, atau kuning atau hijau atau sudah bagus, ujarnya menjelaskan.

Fay mengaku sangat senang dengan pelatihan yang dibuka saat ini karena hari ini ia melihat banyak suport dari semua sektor, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah, terutama Ketua DPRD Alor, Sekda hadir di kesempatan kali ini. Saya cukup senang, saya berharap ini menjadi hal yang sangat positif untuk pengelolaan perikanan di Kabupaten Alor menjadi lebih baik, dari segi kesejahteraanya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Ketua DPRD Kabupaten Alor Paulus Buche Brikmar mengatakan, DPRD secara lembaga mengapresiasi yang tinggi kepada WWF yang suda berada di Alor sejak Tahun 2006 dalam membangun berbagai program dan kegiatan dalal peningkatan ekonomi di bidang perikanan dan kelautan.

Ketua DPRD Alor sedang memberikan sambutan. FOTO:OM MO/RP

Ketua DPRD Alor menaruh harap agar WWF senantiasa bersama dengan pemerintah daerah, berkolaborasi dengan sektor semua yang ada di daerah ini mendampingi masyarakat pesisir meningkatkan kesejahteraan.
Kabupaten Alor kata Buche, memiliki 15 Pulau, punya sejumlah titik yang dikenal sebagai destinasi wisata tetapi juga beberapa titik perairan kita sampai dengan saat ini sudah beralih fungsi.

DPRD demikian Buche menyampaikan terimakasih kepada WWF yang terus melakukan pendampingan dan pelatihan kepada kelompok-kelompok nelayan di daerah ini, sehingga infrastrukturnya pemerintah bangun tetapi juga didukung oleh kelompok masyarakat yang siap memanfaatkan untuk melipatgandakan hasil tangkapan. *** morisweni

Pos terkait