KALABAHI,RADARPANTAR.com-Setelah menerima 30 Mahasiswa KKN dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dua bulan silam, pemerintah Kabupaten Alor akhirnya melepaskan mahasiswa dari salah perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia itu kembali ke kampus. Pelepasan dilakukan Plt. Asisten II Setda Alor Harus Rasyut Miran, SP, Sabtu (08/08/2026) di Aula Kantor Beprida Kabupaten Alor.
Didampingi Kepala Baperida Kabupaten Alor, Domy Salmau, ST, Harun mewakil Bupati Alor melepaskan 30 mahasiswa dari 11 Fakultas di UGM yang 50 hari penuh melakukan KKN di dua lokasi di Kecamatan Kabola yakni, Kelurahan Kabola dan Desa Pante Deere.

Mahasiswa KKN UGM dalam satu sesi foto di acara pelepasan bersama Plt. Asisten II dan Kepala BAPERIDA Alor. FOTO:OM MO/RP
Harun Rasyid Miran, SP mewakil Bupati Alor dalam serimonial pelepasan itu menyampaikan terimakasih banyak kepada mahasiswa UGM atas kerja-kerja nyata di lapangan selama melakukan KKN. Ini angkatan pertama, pemerintah Kabupaten Alor berharap agar mahasiswa UGM tidak bosan-bosan ke Alor melakukan kerja-kerja nyata melalui program KKN.
Rekomendasikan ke almamater, ke LP3M agar angkatan-angkatan berikut Alor juga masih mendapatkan jatah KKN mahasiswa UGM, pinta Harun.

Satu sesi foto setelah Koordinator KKN UGM menyerahkan plakat kepada Plt. Asolisten II Setda Alor. FOTO:OM MO/RP
Teman-teman mahasiswa lanjut Harun, telah merekomendasikan banyak hal berdasarkan presentasi hasil KKN beberapa waktu silam. Pemerintah daerah melihat bahwa banyak produk yang dihasilkan teman-teman mahasiswa. Menyiapkan data base, menyiapkan link-link informasi yang memang sangat kami butuhkan di daerah ini.

Ini bukti nyata teman-teman bisa menjadi agen informasi bagi keberadaan pemerintah Kabupaten Alor dan masyarakat. Kita ambil contoh dengan kehadiran Menteri Pertanian RI yang datang tidak dengan undangan resmi dari pemerintah daerah. Menteri Pertanian berada di Alor untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab kementrian itu hanya karena mendapatkan informasi dari mahasiswa. Begitu kuatnya posisi mahasiswa dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Kehadiran Menteri Pertanian di Alor meski hanya 3 Jam di Alor tetapi membuktikan kepada kita semua, kepada masyarakat Alor, masyarakat Indonesia betapa kuatnya mahasiswa dalam mempengaruhi keputusan-keputusan pejabat, bukan saja pejabat daerah tetapi juga pejabat pusat.

Kehadiran teman-teman mahasiswa UGM di Alor kata Harun, kami pemerintah Kabupaten Alor sangat berharap hari ini teman-teman mahasiswa kembali karena sudah selesai melaksanakan KKN, tetapi kami juga berharap akan ada mahasiswa KKN dari Kampus UGM yang bakal berada di Alor di masa-masa yang akan datang, agar bersama-sama dengan pemerintah daerah membangun daerah ini.

Kepala Beperida Kabupaten Alor Domy Salmau, ST mengatakan, prinsipnya sejak awak pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap teman-teman mahasiswa dari UGM melakukan KKN di dua desa di Kabupaten Alor yakni Kelurahan Kabola dan Desa Pante Deere, Kecamatan Kabola.

bersama Kepala Baperida dan Sekretaris. FOTO:OM MO
“Kita tahu UGM merupakan universitas terbaik di Indonesia, yang tentu memiliki banyak inovasi terkait dengan kebutuhan pembangunan di Kabupaten Alor. Kehadiran teman-teman mahasiswa selama 2 bulan melakukan KKN di Kabupaten Alor, khususnya di Kelurahan Kabola dan Desa Pante Deere memiliki dampak yang baik bagi kemajuan daerah sebagaimana yang telah dipaparkan tim dimana sudak banyak inovasi dan banyak hal yang telah dikerjakan,” ungkap Domy.

Beberapa kerja nyata mahasiswa diantaranya pelatihan digital bagi para pelaku UMKM dan pengembangannya dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. “Kami berharap kerja sama ini dapat dilanjutkan sehingga dapat memberikan dampak postif bagi pembangunan di Kabupaten Alor,” ujarnya sembari menegaskan, kehadiran mahasiswa UGM melalui kerja-kerja nyata merupakan motivasi bagi anak-anak Alor untuk bisa melanjutkan studi di UGM, salah satu kampus ternama dan terbesar di Indonesia yang sudah berhasil mencetak pemimpin nasional/indonesia.

Ke depan demikian Domy, UGM tidak hanya menempatkan mahasiswa KKN di Kabupaten Alor tetapi bisa mendukung daerah ini melakukan riset sesuai dengan sejalan Program Tripalawa dalam rangka optimalisasi penerimaan daerah. Kita akan bangun komunikasi agar ada kontribusi juga dari UGM untuk daerah ini melalui riset.

Dikatakan Domy, mahasiswa UGM yang melakukan KKN di Kabupaten Alor kali ini bukan ditetapkan oleh kampus, mereka sendiri yang mendaftar agar ditempatkan sebagai mahasiswa KKN di Kabupaten Alor. Jadi, ini petarung-petarung yang siap berada di daerah-daerah terpencil seperti Alor. Karena itu saya melihat mereka enjoy selama berada di Alor.
Koordinator Mahasiswa KKN PPM UGM Alor Carita 2026, Kasya Muthia Fatin mengatakan, kalau kami si sebenarnya kalau KKN ya mungkin hanya 2 bulan tetapi jauh sebelum itu pihaknya sudah membangun komunikasi dengan Baperida Alor.
Kami bersyukur bisa sampai di Alor, melakukan KKN. Awal-awal datang agak riskan juga karena saya bawa 30 orang selama 5 hari naik kapal besar, dimana sebagian besar dari kami belum pernah naik kapal. Jadi agak kaget begitu, ujarnya.
Selama menempuh perjalan laut dengan kapal demikian Kasya, pihakanya mendapatkan banyak informasih dari orang-orang tentang Alor. Karena sejauh yang kami pandang, kami hanya pantau di google terkait dengan pariwisatanya, terkait data-datanya. Kami konsern dengan Tripalawa karena kami lihat dokumen awal dari Beperida.
“Kami sama sekali tidak punya pandangan tentang masyarakat Alor, meski beberapa kali VC melalui kenalan untuk membangun komunikasi dengan masyarakat di Kelurahan Kabola dan Pante Deere. Ada yang bilang kalau orang Alor itu mukanya seram-seram, tetapi hatinya sangat lembut,” ungkap Kasya.
Yang menyentuh hati begitu kami tiba di Alor demikian Kasya, meski sudah sore saat tiba pertama kali di Alor, tetapi masyarakat, Baperida, kecamatan, lurah dan desa menyambut kami dengan baik. Masih ada semangat karena kami datang pertama ini disambut dengan lego-lego. Jadi, capenya kami sampai disini itu hilang semua dengan sambutan yang luar biasa.
50 hari berjalan, saya melihat dari kegiatan kami di Pante Deere dan juga di Kabola itu kami dimudakan karena masyarakatnya juga. Mungkin karena pada dasarnya masyarakat disini sering membantu. Apalagi di Kabola, awalnya sering dimudakan dengan masalah transportasi, terus makan-makan. Ada acara kami diundang, ini membantu kami untuk mendekatkan diri ke masyarakat.
Untuk program sejauhnya ini kata Kasya, yang besar belum kami kerjakan karena beberapa hambatan yang kami hadapi, tetapi kami memberikan fondasi sebagai dasar. Jadi, kami itu sasarannya ke masyarakat umum, anak-anak, nelayan dan pemuda yang mana buat bekal. Kami dasarkan dari pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya keberlanjutan.
Menurutnya, banyak sekali kerja-kerja yang sifatnya itu ke sekolah, terus ke masyarakat terkait dengan pembelajaran di masa sekarang ini seperti apa. Kami juga fokus dengan pendekatan nilai jual seperti ada pembuatan abon, sirup dari buah-buahan, kemudian dari perikanan.
Ditambahkan Kasya, 50 hari disini kami sudah mencakup semua lah. Jujur, sangat berat bagi saya sendiri untuk meninggalkan Alor karena saya merasa sudah menjadi bagian dari Alor, walaupun dengan singkat tetapi semua pengalaman saya dan teman-teman itu sudah menggambarkan bagaimana masyarakat Alor itu hidup disini. 50 hari itu rasanya bagi kami sangat cepat ke rasaynya. Ini pengalaman sangat berharga.
“Ini hari kami pamitan, saya tiga hari di Kabola terus menerus dikasih makan malam untuk perpisahan. Tadi hampir dua jam masih nangis-nangisan di rumah untuk perpisahan. KKN ini salah satu pengalaman terbaik saya karena bukan hanya pemandangan indah yang saya lihat di Alor, ternyata masyarakatnyapun memeluk kami begitu. Jadi, Alor itu pemandangannya indah, orangnya ramah-ramah. Kami juga belajar toleransi di Alor dengan semboyan Taramiti Tominuku, yang di kampus belum pernah kami dapati bagaimana kami hidup bertoleransi,” tambahnya. *** morisweni






