KALABAHI,RADARPANTAR.com-Wakil Gubernur NTT menyebutkan bahwa penyelanggaraan Pekan Wisata Maju Rakyat Sejahtera (WISMARAYA) II 2026 Kabupaten Alor mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif serta memberdayakan pelaku UMKM di Kabupaten Alor. “Pekan WISMARAYA II momentum penting untuk memperkuat promosi pariwisata, pelestarian seni dan budaya, pengembangan ekonomi kreatif serta pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Alor,” Wakil Gubernur NTT Jhoni Asadoma dalam sambutan tertulis yang disampaikan . Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Alexon Lumba, SH, S. Hum.
Pekan WISMARAYA II Kabupaten Alor Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Mini Kalabahi, Rabu (9/9/2026). Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Alexon Lumba, SH, M.Hum mewakili mewakili Wakil Gubernur NTT.

Penyelenggaraan Pekan WISMARAYA II yang berlangsung pada 9–14 September 2026 ini merupakan momentum penting untuk memperkuat promosi pariwisata, pelestarian seni dan budaya, pengembangan ekonomi kreatif serta pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Alor.
Mewakili Wakil Gubernur NTT, Alexon Lumba menyampaikan apresiasi dan penghargaan Pemerintah Provinsi NTT kepada Pemerintah Kabupaten Alor, khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Alor, panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menginisiasi serta menyelenggarakan Wismaraya II.
Menurut Wakil Gubernur NTT, Wismaraya II merupakan langkah positif dalam mengembangkan dan mempromosikan pariwisata sekaligus melestarikan seni dan budaya, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan memberdayakan pelaku UMKM.

“Pekan Wismaraya II merupakan sebuah langkah positif dalam upaya mengembangkan dan mempromosikan pariwisata, melestarikan seni dan budaya, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif serta memberdayakan pelaku UMKM di Kabupaten Alor.”
Wakil Gubernur NTT menilai Kabupaten Alor memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi modal besar bagi pengembangan sektor pariwisata.
Alor memiliki laut yang memukau, panorama alam yang eksotis serta keragaman budaya yang terus terjaga. Tenun, kuliner tradisional, kerajinan, hasil laut, tradisi masyarakat dan berbagai atraksi budaya merupakan kekayaan yang tidak ternilai dan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Karena itu, pengembangan pariwisata Alor tidak boleh hanya berhenti pada upaya menjual keindahan alam.
“Kita harus mampu menghadirkan pengalaman yang utuh bagi wisatawan. Ketika orang datang ke Alor, mereka tidak hanya menikmati laut dan panorama alam, tetapi juga mengenal budaya, mencicipi kuliner, membeli produk lokal serta merasakan keramahan masyarakat.”
Menurut Wakil Gubernur, dalam konteks tersebut kegiatan seperti Wismaraya memiliki arti penting karena menjadi ruang bersama untuk mempertemukan pariwisata, budaya, olahraga, kreativitas dan ekonomi masyarakat.
Pesan penting yang disampaikan Wakil Gubernur NTT adalah agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata.
Setiap peningkatan kunjungan wisatawan harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar destinasi. Karena itu, pengembangan pariwisata harus dibarengi dengan penguatan produk lokal, peningkatan kapasitas pelaku usaha, pengembangan ekonomi kreatif dan penciptaan rantai ekonomi yang melibatkan masyarakat, pintanya.
Wakil Gubernur NTT juga mendorong penerapan konsep One Village One Product (OVOP) atau pengembangan produk unggulan berbasis komunitas sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi masyarakat.
Menurutnya, daerah tidak boleh hanya menjual bahan mentah atau potensi yang belum memiliki nilai tambah. Produk lokal perlu melalui proses hilirisasi, peningkatan kualitas, perbaikan kemasan, penguatan pemasaran dan pembangunan identitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kita tidak ingin hanya menjual bahan mentah atau potensi yang belum memiliki nilai tambah. Kita harus mampu melakukan hilirisasi, meningkatkan kualitas, memperbaiki kemasan, memperkuat pemasaran dan membangun identitas produk sehingga produk lokal kita mampu bersaing di pasar yang lebih luas.” Ujarnya.
Dalam konteks Kabupaten Alor, semangat tersebut dinilai memiliki ruang yang sangat besar untuk dikembangkan.
Wismaraya II dapat menjadi contoh bagaimana kekayaan budaya, kerajinan, kuliner, hasil laut, tradisi dan kreativitas masyarakat dikemas menjadi kekuatan ekonomi baru.
Tenun, misalnya, tidak hanya dapat ditempatkan sebagai pakaian adat, tetapi juga dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi. Demikian pula kuliner lokal dapat diperkenalkan sebagai identitas gastronomi Alor, sementara hasil laut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Gubernur NTT menekankan agar semangat Wismaraya tidak berhenti ketika festival berakhir.
Keberlanjutan harus diwujudkan melalui pembinaan UMKM, pengembangan produk, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kemasan dan pemasaran hingga pemanfaatan teknologi digital.
“Saya mendorong agar semangat Pekan Wismaraya tidak berhenti ketika festival ini berakhir. Harus ada keberlanjutan dalam pembinaan UMKM, pengembangan produk, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengemasan, pemasaran hingga pemanfaatan teknologi digital.” Pintanya menambahkan.
Menurutnya, pariwisata yang maju membutuhkan kolaborasi semua pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan pelaku usaha, komunitas kreatif, pelaku UMKM, generasi muda, tokoh adat, tokoh agama dan seluruh masyarakat.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur NTT secara khusus mengajak generasi muda Alor untuk mengambil bagian dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Generasi muda didorong memanfaatkan kreativitas dan teknologi digital untuk memperkenalkan berbagai potensi daerah.
“Gunakan kreativitas dan teknologi untuk mempromosikan daerah kita. Setiap kita dapat menjadi duta pariwisata. Mari manfaatkan media sosial kita untuk memperkenalkan keindahan alam, budaya, kuliner dan berbagai pengalaman menarik yang ada di Alor.”
Pesan tersebut sejalan dengan kebutuhan promosi pariwisata di era digital. Generasi muda dapat menjadi pelaku sekaligus promotor destinasi melalui berbagai konten kreatif yang memperkenalkan keindahan alam, tradisi, kuliner, kerajinan dan kehidupan masyarakat Alor.
Menurut dia, pelaksanaan Wismaraya II diharapkan menjadi titik penguatan ekosistem pariwisata Alor yang lebih berkelanjutan.
Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan agar peningkatan kunjungan wisatawan diikuti dengan berkembangnya UMKM, ekonomi kreatif, industri pariwisata, kuliner, kerajinan, transportasi, akomodasi dan berbagai sektor ekonomi masyarakat lainnya. Dengan demikian, manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan pada saat festival berlangsung, tetapi terus berlanjut setelah kegiatan selesai. *** morisweni






