Pelatihan pengolajan pangan lokal ni merupakan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan Posyandu sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting di Kabupaten Alor, sebut Lidya dalam seremonilal pembukaan yang dihadiri Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, SH, MH, Kadis Perhubungan Sutyo Ambao, Kadis Pora Daud Dolpaly, Plt. Kadis PMD Sem Obisuru, Kabag Keuangan Sekwan DPRD Alor Hery Sir, Camat Pantar Timut Ari Waang, Kabag Protokol Marcel Billy, Sekretaris Dinas Kesehatan Pitand Sir dan sejumlah pejabat lainnya.

Posyandu demikian Lidya, bukan hanya tempat menimbang balita, tetapi telah bertransformasi menjadi wadah pelayanan masyarakat yang memberikan pelayanan secara terpadu sesuai dengan enam bidang pelayanan dasar, yaitu kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial.

Oleh karena itu, peran kader Posyandu menjadi semakin strategis sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, mendampingi keluarga, serta mendorong perubahan perilaku hidup sehat, ujarnya.
Dijelaskannya salah satu penyebab masih terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi yang berkualitas pada ibu hamil, bayi, dan balita. Padahal kita memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat melimpah. Jagung, ubi, singkong, kelor, pisang, ikan, telur, kacang-kacangan, serta berbagai hasil kebun lainnya merupakan sumber gizi yang sangat baik apabila diolah dengan benar.

Karena itu, “Saya mengajak seluruh kader PKK dan kader Posyandu untuk menjadi pelopor dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai menu PMT yang sehat, bergizi, aman, higienis, menarik, dan disukai anak-anak,” pinta Lidya.
Dijelaskan Lidya, PMT hendaknya tidak dipandang sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam memperbaiki status gizi masyarakat. Yang terpenting bukan makanan yang mahal, melainkan makanan yang bergizi, seimbang, mudah diperoleh, dan memanfaatkan potensi peka yang ada di sekitar kita.

Menurut Lidya, di pantar banyak sekali potensi lahan yang baik yang bisa kita manfaatkan salah satunya kemarin kami baru saja mengunjugi kebun gizi milik Bapak kornelius kolisubang.. Jadi mari kita manfaatkan peluang peluang ini untuk menghasilkan pangan lokal bagi keluarga dan juga kebutuhan masyarakat sekitar. Dari kebun ke rumah untuk keluarga sejahtera.
Selain pangan lokal yang harus kita tingkatkan, Saya juga mengajak seluruh keluarga agar rutin membawa bayi dan balita ke Posyandu setiap bulan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangannya. Melalui Posyandu, kita dapat mendeteksi lebih dini apabila terdapat gangguan pertumbuhan sehingga dapat segera dilakukan penanganan.

Lidya mengajak kader PKK untuk terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif, MP-ASI yang bergizi dan beragam, konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.
“Saya ingin meyapa “Ibu-ibu PKK hebat yang ada di Pantar dan Bapa Mama kader yang saya sayangi. Saya tidak bicara sebagai Ketua TP-PKK, tetapi Saya bicara sebagai seorang Ibu.
Kita semua sebagai seorang ibu tentunya kita pernah hamil. KIta tahu rasanya kaki bengkak, pusing, takut melahirkan. Tapi disisi lain ada ibu-ibu kita di desa yang takut karena tidak ada ongkos untuk bayar ojek ke Bidan atau ke puskesas. Ada ibu hamil yang takut kalau di rujuk ke kalabahi mau tinggal dimana dan ada ibu hamil yang takut kerena tidak ditemani suaminya mungkin kerena belum menikah atau hal mendasar lainnya. Malah ada ibu hamil yang takut karena suaminya bilang ‘dulu saya juga lahir di rumah, ditolong oleh dukun, jadi kamu juga lebih baik lahir di rumah saja. Ini kenyataan yang ada di masyarakat kita,” ungkapnya.
Ketakutan seperti masalah ekonomi serta kepedulian kita terhadap ibu hamil yang masih kurang sampai akhirnya tahun 2025 kita harus kehilangan 10 nyawa ibu hamil . Dan saat ini di Tahun 2026, masih pertengahan tahun kita harus kehilangan lagi 6 orang dan 30 bayi, sebut Lidya.
Dikatakan Lidya, kematian ibu, kematian bayi dan anak stunting, bisa kita cegah, Obatnya ada, bidannya ada, dokternya ada. Sebenarnya apa yang kurang. Mari Kita dukung GERAKAN IBU HAMIL SEHAT DAN PENCEGAHAN STUNTING. Tugas kita PKK cuma 1: yaitu KAWAL semua BUMIL yang ada di desa. Dengan gerakan
1. JEMPUT ibu hamil ke posyandu bersama Kader Tanya ke ibu hamil : ‘Ibu sudah minum tablet tambah darah atau belum hari ini?’ Tugas Kader PKK: Ketok pintu rumah bumil. “igatkan Ibu, hari ini jadwal ke Bidan. Jangan sampai ada Ibu hamil yang kita tidak tahu rumahnya
2. JAGA ibu hamil: Tempelkan stiker ‘Rumah Bumil’ di pintu. Pastikan kapan perkiraan persalinan, pastikan sudah ada no kontak bidan dan no kontak . ambulans.
3. JAMIN: Kumpulkan Rp2.000/minggu dari arisan PKK untuk ‘Tabungan Darurat Bumil’ 1 desa. Untuk bayar ojek malam hari.
“Saya sangat berharap Ibu Ketua PKK Kecamatan: mulai Bulan ini kita mengumpulkan data semua bumil dan disampaikan ke PKK Kabupaten. Ibu-ibu, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tapi surga juga bisa hilang kalau ibunya tidak selamat melahirkan,” jelasnya.
Keberhasilan pembangunan jelas Lidya, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Sinergi antara pemerintah daerah, TP PKK, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader Posyandu, tokoh masyarakat, dan seluruh keluarga merupakan kunci dalam menciptakan generasi Alor yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Saya berharap setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat mempraktikkan berbagai olahan pangan lokal di rumah maupun di Posyandu serta membagikan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat lainnya.
Mari kita jadikan Posyandu sebagai pusat pembelajaran keluarga, pusat pelayanan masyarakat, sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat demi mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera. *** morisweni






