MALI’ANG,RADARPANTAR.com-Kampanye Gerakan Ibu Hamil Sehat, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor Ny. Lidia Siawan mengingatkan kepada tim penggerak PKK Kecamatan dan tim penggerak PKK desa bahwa tugas PKK di desa itu diantaranya kawal semua ibu hamil yang ada di masing-masing desa.
Demikian disampaikan Istri Wakil Bupati Alor ini kepada ibu-ibu yang tergabung dalam Tim Penggerak PKK Kecamatan Pantar Tengah dan Tim Penggerak PKK Desa-desa se-Kecamatan Pantar Tengah dalam pelantikan Kepala Desa Toang di Mali’ang-Ibukota Kecamatan Pantar Tengah, Kamis (2/7/2026).
Selain kawal semua ibu hamil yang ada di desanya masing-masing demikian Ny. Lidia, tugas PKK lainnya adalah JEMPUT ibu hamil ke posyandu bersama Kader Tanya ke ibu hamil, ‘Ibu sudah minum tablet tambah darah atau belum hari ini.
Tugas Kader PKK itu adalah ketok pintu rumah ibu hamil, igatkan Ibu, hari ini jadwal ke Bidan. Jangan sampai ada Ibu hamil yang kita tidak tahu rumahnya.

Ibu PKK di Kecamatan Pantar Tengah serius menyimak kampanye Ibu Hamil Sehat yang disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Alor. FOTO: OM MO/RP
“JAGA ibu hamil: Tempelkan stiker ‘Rumah Ibu Hamil’ di pintu. Pastikan kapanperkiraan persalinan, pastikan sudah ada no kontak bidan dan no kontak ambulans,” pintanya
Kepada Kader PKK, Lidia minta JAMIN, Kumpulkan Rp2.000/minggu dari arisan PKK untuk ‘Tabungan Darurat Ibu Hamil’ 1 desa. Untuk bayar ojek malam hari.
Dan, terakhir Lidia minta ke Ibu Ketua PKK Kecamatan: mulai Bulan ini kita mengumpulkan data semua bumil dan disampaikan ke PKK Kabupaten.
Ibu-ibu, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tapi surga juga bisa hilang kalau ibunya tidak selamat melahirkan, ungkapnya.
Lidia mengajak semua pihak untuk menjaga. Kita kuat karena kita ibu-ibu.
Ny. Lidia menegaskan bahwa ia bicara sebagai seorang Ibu. Kita semua sebagai seorang ibu tentunya kita pernah hamil. KIta tahu rasanya kaki bengkak, pusing, takut melahirkan. Tapi disisi lain ada ibu-ibu kita di desa yang takut karena tidak ada ongkos untuk bayar ojek ke Bidan atau ke Puskesas.
Dia mengaku ada ibu hamil yang takut kalau di rujuk ke kalabahi mau tinggal dimana
dan ada ibu hamil yang takut kerena tidak ditemani suaminya mungkin kerena belum
menikah atau hal mendasar lainnya.
Malah ada ibu hamil yang takut karena suaminya
bilang ‘dulu saya juga lahir di rumah, ditolong oleh dukun, jadi kamu juga lebih baik lahir di rumah saja. Ini kenyataan yang ada di masyarakat kita. Ketakutan seperti ini, masalah ekonomi serta kepedulian kita terhadap ibu
hamil yang masih kurang sampai akhirnya tahun 2025 kita harus kehilangan 10 nyawa ibu hamil, 2 orang ibu hamil dari Tamalabang dan kita tidak tau nasib anak anak yang ditinggalkan.
Dan saat ini di Tahun 2026, masih pertengahan tahun kita harus kehilangan lagi 6 orang ibu, 1 ibu hamil dari Tamalabag dan 30 bayi.
Menurut dia, ada ibu yang tidak pulang dari melahirkan, padahal keluarga menanti di
rumah. Ada Bayi yang baru lihat dunia 7 hari, lalu pergi selamanya. Meninggalnya
seorang Ibu, berarti 1 keluarga hancur. Anaknya jadi yatim. Meninggalnya seorang Bayi, berarti 9 bulan penantian Ibu sia-sia.
“Hari ini, kita PKK tidak boleh diam lagi. Kita maju paling depan untuk kampanye: Turunkan Angka Kematian Ibu dan bayi di Kabupaten Alor.
Kematian ibu, kematian bayi dan anak stunting, bisa kita cegah, Obatnya ada, bidannya ada. dokternya ada. Sebenarnya apa yang kurang,” ujarnya sembari mengajak, mari kita dukung
GERAKAN IBU HAMIL SEHAT DAN PENCEGAHAN STUNTING. *** morisweni






