Alor Punya Potensi Pariwisata Berskala Dunia, DR. Mesak Awang: Ada Fakta Kesenjangan Antara Besarnya Potensi Destinasi dengan Retensi

KALABAHI,RADARPANTAR.com-Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur dikaruniai potensi pariwisata berskala dunia. Ada 39 Daya Tarik Wisata, ditunjang ekosistem Taman Laut Selat Pantar yang mendunia. Pasalnya, pemerintah pusat pun telah menetapkan Alor-Lembata sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Sayangnya, masih ditemukan kesenjangan antara besarnya potensi destinasi dengan kemampuan kita mempertahankan wisatawan (retensi).

Demikian diungkapkan DR. Mesak Y. Awang, SE, MM dalam orasi ilmiah dibawah judul INOVASI PEMASARAN UNTUK RETENSI WISATAWAN: Penguatan Branding Kabupaten Alor dalam Rapat Senat Luar Biasa Wisuda Sarjana Angkatan XVI, Universitas Tribuana Kalabahi, Sabtu (01/08/2026) di Kalabahi.

Bacaan Lainnya

Menurut Awang, orasi ilmiah yang disampaikan ini berangkat dari refleksinya terhadap realita kepariwisataan di Kabupaten Alor.

“Alor dikaruniai potensi berskala dunia, dengan 39 Daya Tarik Wisata (20 wisata alam, 16 wisata budaya, 3 wisata buatan) serta ekosistem Taman Laut Selat Pantar yang mendunia. Pemerintah pusat pun telah menetapkan Alor-Lembata sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN),” kata Awang dihadapan Rapat Senat Luar Biasa Universitas Tribuana Kalabahi yang dihadiri Sekda Alor Melki Bely, S.Sos, M.Si dan pejabat pemerintah Kabupaten Alor lainnya, Ketua DPRD Alor Buche Brikmar, Pemerintah Propinsi NTT, MSH GMIT, KMK teritorial Tribuana, orang tua wisudawan, wisudawan dan undangan lainnya.

Meski begitu demikian doktor lulusan UNDIP ini bahwa riset lapangannya menemukan fakta adanya tantangan struktural, mayoritas pengunjung Alor adalah wisatawan yang baru pertama kali datang (36,89%–38%), sedangkan wisatawan yang loyal berkunjung lebih dari tiga kali baru di angka 13,78%. Durasi tinggal mereka juga tergolong singkat, yakni rata-rata hanya 1 hingga 3 hari.

“Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara besarnya potensi destinasi dengan kemampuan kita mempertahankan wisatawan (retensi),” ungkapnya tegas.

Inti dari gagasan yang ia sampaikan melalui orasi ilmiah ini menurut Awang adalah pentingnya mengubah paradigma pengelolaan pariwisata Alor dari yang semula hanya mengejar “kunjungan pertama”, menjadi fokus pada “retensi wisatawan” atau kunjungan berulang. Retensi wisatawan bukan sekadar metrik bisnis, melainkan instrumen pemerataan manfaat ekonomi. Peningkatan retensi hanya bisa diwujudkan melalui inovasi pemasaran dan transformasi digital berbasis kearifan lokal, di mana masyarakat desa tidak lagi menjadi penonton, melainkan pelaku utama yang berdaya.

Dijelaskan Awang, melalui orasi yang bersumber dari disertasi dan publikasi jurnal bereputasi ini, ia menjabarkan empat temuan empiris utama yang harus menjadi perhatian para pemangku kepentingan:
1. Keindahan Visual Saja Tidak Cukup: Riset saya membuktikan bahwa citra destinasi berupa keindahan visual (foto/video) di media sosial tidak berpengaruh langsung pada niat berkunjung ulang. Promosi visual hanya efektif sebagai “pintu masuk” untuk kunjungan pertama.
2. Peran Motivasi Perjalanan (Travel Motivation Value): Agar wisatawan mau kembali, destinasi harus mampu memuaskan dorongan motivasi batin wisatawan (full mediation). Di Alor, motivasi utama wisatawan adalah keinginan mempelajari sejarah lokal, kebudayaan, serta interaksi sosial yang hangat dengan warga setempat.
3. Kepercayaan (Trust) dan Persepsi Nilai (Value) adalah Kunci: Saya menemukan bahwa kesetiaan wisatawan pesisir sangat ditentukan oleh Kepercayaan Destinasi (Destination Trust) dan Persepsi Nilai (Perceived Value). Jaminan keamanan menyelam di arus Selat Pantar, kewajaran harga produk lokal, dan transparansi layanan adalah fondasi yang merekatkan hubungan jangka panjang.
4. Keunggulan Berbasis VRIO: Dengan pendekatan Resource-Based View, potensi Alor memenuhi syarat daya saing VRIO (Valuable, Rare, Inimitable, Organized). Nilai sejarah, kelangkaan, dan keramahan warga Alor sangat sulit ditiru oleh daerah lain. Pekerjaan rumah kita adalah memastikan pengelolaannya (Organized) dijalankan dengan baik oleh warga desa dan lembaga adat.

Dalam orasinya, Awang menawarkan rekomendasi strategis (Call to Action) sebagai jalan keluar, melalui mimbar akademik tiga langkah taktis untuk pemerintah daerah, pemangku kepentingan pariwisata, dan dunia perguruan tinggi yakni:
1. Transformasi ke Motivation-Driven Storytelling: Kita harus menggeser promosi pariwisata dari yang sekadar memamerkan objek fisik, menjadi pemasaran bernarasi (bercerita) tentang sejarah Moko, tradisi tenun ikat, dan kehidupan sosial Kampung Adat Takpala.

1. Pemberdayaan Komunitas Lokal: Penguatan kapasitas Pokdarwis dan standardisasi UMKM lokal sangat mutlak dilakukan. Masyarakat harus menjadi pemilik narasi untuk memastikan terjadinya keadilan ekonomi di akar rumput.

1. Tata Kelola Kolaboratif: Diperlukan sinergi antara Pemda, Universitas Tribuana Kalabahi, dan Lembaga Adat untuk merumuskan regulasi konservasi kelautan, menjamin keamanan standar wisata bahari, serta membangun desa wisata secara berkelanjutan.

Sesuai dengan tema wisuda “Ilmu Berdampak, Masyarakat Berdaya”, Awang menegaskan kepada para lulusan bahwa ilmu yang dipelajari harus berwujud solusi nyata bagi daerah. Toga sarjana bukanlah tanda usai belajar, melainkan surat utang kepercayaan dari masyarakat Alor yang menuntut pengabdian nyata untuk mengangkat ketahanan ekonomi bumi Nusa Kenari.

PROFIL SINGKAT PENULIS / ORATOR
Nama Lengkap : Dr. Mesak Yamres Awang, SE., MM.
Tempat, Tanggal Lahir : Puntaru, Alor, 10 Januari 1983.
Bidang Kepakaran : Akademisi dan peneliti di bidang Pemasaran Pariwisata, dengan fokus utama pada perilaku wisatawan serta pengembangan destinasi.

Riwayat Pendidikan:
1. S1: Sarjana Ekonomi dari Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang (Lulus tahun 2005).
2. S2: Magister Manajemen dari Universitas Budi Luhur Jakarta (Lulus tahun 2015).
3. S3: Doktor Ilmu Sosial dari Universitas Diponegoro Semarang (Lulus tahun 2025). Riset doktoral berfokus pada peran travel motivation value terhadap minat kunjungan ulang wisatawan di kawasan Alor-Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Pekerjaan & Jabatan Saat Ini:
4. Dosen Tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Tribuana Kalabahi (UNTRIB) Alor.
5. Ketua Program Studi Pariwisata di UNTRIB Alor.
Rekam Jejak & Publikasi:
6. Penerima Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) dari Kemendikbudristek pada tahun 2018.
7. Aktif menerbitkan berbagai publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi tingkat nasional maupun internasional yang terindeks Sinta dan Scopus. *** morisweni

Pos terkait