Evaluasi Capaian PAD dan Realisasi APBD 2026, Sekda Alor:Realisasi Baru Mencapai 50,56 dan 67,50 Persen

KALABAHI,RADARPANTAR.com-Sekretaris Daerah Kabupaten Alor Melkisedek Belly, S.Sos, M.Si memimpin rapat mengevaluasi capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026, Selasa (20/10/2026). Belly dalam rapat evaluasi itu menyebutkan bahwa PAD dari Rp. 65.036 Milyar yang ditargetkan realisasi berada di 67,50 persen atau Rp. 43.899 Milyar. Sedangkan realisasi APBD 2026 baru mencapai 50,56 persen atau Rp. 575 Milyar dari Rp. 1.138 Triliun.

Sekda Alor Melkisedek Belly, S.Sos, M.Si. FOTO:OM MO/RP

Bacaan Lainnya

Sekda Alor dalam evaluasi itu menyebutkan bahwa rapat ini bertujuan mengidentifikasi capaian pendapatan dan belanja daerah, mengevaluasi kendala pelaksanaan anggaran, serta mendorong percepatan realisasi program hingga akhir tahun anggaran.

Capaian PAD dan realisasi APBD 2026 sebagaimana disebutkan diatas demikian Belly menjadi perhatian pemerintah daerah karena masih terdapat potensi pendapatan yang perlu dioptimalkan dalam sisa waktu tahun anggaran 2026.

Belly mengungkapkan pentingnya peran 18 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pengelola PAD untuk bergerak lebih cepat dalam mengoptimalkan sumber daya manusia dan potensi pendapatan sesuai tugas serta kewenangan yang dimiliki masing-masing OPD.

Menurut Belly, berdasarkan data anggaran murni yang dipaparkan dalam rapat, anggaran belanja daerah mencapai Rp. 1,138 triliun. Realisasi yang tercatat sekitar Rp. 575 miliar atau sebesar 50,56 persen.

Namun, berdasarkan perkembangan terakhir yang disampaikan dalam evaluasi, realisasi belanja telah mengalami peningkatan dan berada pada kisaran lebih dari 60 persen.

Sejumlah OPD yang menangani belanja modal dan kegiatan fisik masih menghadapi kendala teknis dalam pelaksanaan program. Meski demikian, beberapa perangkat daerah telah mencatat perkembangan realisasi anggaran yang mumpuni.

Berdasarkan data yang disampaikan, realisasi anggaran Dinas Pendidikan telah mencapai 74,86 persen, Dinas Kesehatan dan Dinas Pekerjaan Umum sekitar 62 persen.

Sekda Alor minta perangkat daerah yang lebih banyak mengelola belanja operasional untuk mempercepat pelaksanaan kegiatan sesuai perencanaan dan ketentuan pengelolaan keuangan daerah.

Belly menyatakan optimis realisasi belanja dapat terus meningkat hingga akhir tahun yang merujuk pada capaian tahun sebelumnya yang disebut mendekati 90 persen.

Karena itu, seluruh perangkat daerah diminta menindaklanjuti hasil evaluasi dengan langkah konkret, mempercepat pelaksanaan program dan memastikan anggaran yang telah ditetapkan dapat direalisasikan sesuai ketentuan.

Garam Lokal Alor Disiapkan Menjadi Produk Unggulan

Dalam rapat tersebut, Sekda juga mendorong setiap perangkat daerah menghadirkan inovasi untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lokal dan membuka peluang sumber pendapatan baru bagi daerah.

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah perindustrian, khususnya pengembangan produksi garam lokal Alor.

Belly menyampaikan bahwa dalam perencanaan perubahan anggaran terdapat rencana pengadaan peralatan pengolahan garam dengan nilai sekitar Rp. 300 Juta.

Program tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pengolahan garam lokal sehingga mampu dikembangkan menjadi produk yang memiliki daya saing dan berpeluang memasuki pasar yang lebih luas pada 2027.

Menurutnya, hasil evaluasi menunjukkan garam lokal Alor memiliki kualitas yang baik. Potensi tersebut perlu didukung teknologi pengolahan yang memadai agar dapat dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan daerah.

Pariwisata Alor Perlu Berkontribusi Lebih Besar terhadap PAD

Sektor pariwisata juga menjadi perhatian dalam evaluasi tersebut. Melkisedek menilai Kabupaten Alor memiliki potensi wisata bahari yang besar, termasuk lokasi penyelaman yang menarik minat wisatawan mancanegara.

Namun, ia menilai kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, perangkat daerah terkait diminta membangun komunikasi dan mempelajari pengelolaan pariwisata di Labuan Bajo, termasuk strategi pengembangan destinasi dan pengelolaan sumber pendapatan daerah.

“Kita punya potensi pariwisata yang luar biasa, termasuk titik-titik penyelaman yang menarik wisatawan mancanegara. Karena itu, kita perlu belajar bagaimana potensi tersebut dikelola agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi PAD,” ujarnya.

Sekda berharap koordinasi dan pertukaran pengalaman dengan pihak terkait dapat membantu pemerintah daerah mengidentifikasi peluang pendapatan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Sektor Perhubungan Turut Menjadi Perhatian

Selain pariwisata dan perindustrian, Belly meminta perangkat daerah terkait mengidentifikasi potensi pendapatan dari sektor perhubungan.

Peluang yang disoroti antara lain pengelolaan fasilitas di tepi jalan yang melibatkan pihak ketiga serta kemungkinan kerja sama dengan PT ASDP Indonesia Ferry terkait aktivitas angkutan laut dan peti kemas dari Kupang.

Ia meminta peluang tersebut dikaji lebih lanjut melalui koordinasi dengan pihak terkait, dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku agar pengelolaannya dapat memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah.

Dia menegaskan bahwa peningkatan PAD membutuhkan inovasi, koordinasi, dan upaya berkelanjutan untuk mengidentifikasi potensi pendapatan baru di berbagai sektor.

Percepatan Realisasi Menjelang Akhir Tahun

Menutup evaluasi, Sekda meminta seluruh perangkat daerah memperkuat koordinasi dan mempercepat pelaksanaan program APBD 2026.

Upaya tersebut mencakup optimalisasi PAD, penyelesaian kendala teknis pelaksanaan program, serta peningkatan realisasi belanja daerah sesuai perencanaan dan ketentuan yang berlaku.

Pemerintah Kabupaten Alor berharap langkah tersebut dapat mendorong pencapaian target pendapatan dan belanja daerah hingga akhir tahun anggaran 2026 sekaligus mendukung pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. *** morisweni

Pos terkait