Dari Ibadah Dies Natalis XIX dan Pelepasan Wisudawan Angkatan XVI UNTRIB: Orang Cerdas Banyak Tetapi Korupsi Masih Kita Lihat

KALABAHI,RADARPANTAR.COM-Kamis, 30 Juli 2026, Universitas Tribuana (Untrib) Kalabahi menggelar Ibadah Syukur Dies Natalis XIX yang disatukan dengan Pelepasan Wisudawan Angkatan XVI universitas di kampus yang berbatasan dengan negara baru Republik Demokrat Timor Leste (RDTL). Ketua Majelis Harian Jemaat GMIT Alanglah, Klasis Alor Barat Laut Pdt. Medyatry Rafael, M.TS (Master of Theological Studies) didaulat memimpin ibadah. “Orang cerdas banyak, tetapi korupsi masih kita lihat, kekerasan masih terjadi, penyalahgunaan kekuasaan juga masih ada,” Medyatry Rafael.

Dunia memiliki banyak orang berilmu, banyak orang pintar tetapi kita masih melihat banyak persoalan juga terus terjadi. Orang pintar banyak tetapi ketidak adilan juga banyak. Orang cerdas banyak, kemiskinan juga masih ada, kerusakan lingkungan masih ada, korupsi masih kita lihat, kekerasan masih terjadi, penyalahgunaan kekuasaan juga masih ada. Mengapa? Karena sesungguhnya dunia ini sedang mengalami krisis orang-orang yang berhikmat, kata Medyatry Rafael.

Bacaan Lainnya

Dihadiri Rektor Untrib Kalabahi Elia Maruli, SE, MM, Wakil-wakil Rektor, Dekan, Ketua Prodi, Ketua Pembina Permenas Lamma Kolly, SE dan jajarannya, orang tua wisudawan dan calon wisudawan dalam ibadah itu Rafael mengukuhkan Bendahara Yayasan Tribuana Fried Yohanes Kolly, SH. Fried menggantikan Drs. Yulius Donulawang dari jabatan bendahara yayasan Tribuana Kalabahi yang mengalami sakit.

Rafael memulai khotbah dengan mengutif ungkapan bijak Nelson Mandela-Presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Artinya “Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia,”.

Tetapi kalau kita melihat kenyataan hidup kita dan kita lihat dunia ini demikian Rafael, dunia masih terus membuktikan bahwa pendidikan saja tidak otomatis mengubah, pendidikan saja tidak otomatis menjadikan dunia yang kita hidup menjadi lebih baik.

Menurut dia, dunia memiliki banyak orang berilmu, banyak orang pintar tetapi kita masih melihat banyak persoalan juga terus terjadi. Orang pintar banyak tetapi ketidak adilan juga banyak. Orang cerdas banyak, kemiskinan juga masih ada, kerusakan lingkungan masih ada, korupsi masih kita lihat, kekerasan masih terjadi, penyalahgunaan kekuasaan juga masih ada. Mengapa? Karena sesungguhnya dunia ini sedang mengalami krisis orang-orang yang berhikmat.

Dijelaskan Rafael, kita tidak mengalami krisis orang pintar, karena lulusan-lulusan yang berkualitas banyak. Hari ini 356 calion sarjana UNTRIB siap diwisuda. Tambah lagi 356 orang yang diakui pintar. Tidak kekurangan orang pintar di dalam dunia kita, tetapi justru kita sedang dalam krisis orang berhikmat, orang yang di masa sekarang sulit sekali jadi panutan.

Seperti apa orang yang benar-benar berhikmat itu, apakah hikmat hanya berarti memiliki pengetahuan yang luas, apakah hikmat identik dengan kecerdasan intelektual atau gelar akademik yang tinggi, kata Rafael setengah bertanya. Ditegaskannya, Firman Tuhan hari ini menolong kita untuk menggumuli pertanyaan ini.

Kalau kita melihat seluruh rangkaian kitab Daniel, kita bisa menemukan bahwa kitab Daniel sendiri ditulis dalam situasi yang tidak muda, bangsa Yehuda sedang dalam pembuangan di Babel. Mereka bergumul karena mereka kehilangan tanah air mereka, mereka kehilangan masa depan, kehilangan pengharapan dan kehilangan identitas mereka. Orang Yehuda mulai bertanya, apakah Tuhan masih berkuasa dan memegang kendali atas hidup dan masa depan kita. Daniel mengisahkan bahwa iman di tangan ujian, kesetiaan kepada Tuhan di negeri asing serta penglihatan dan kekuatan tentang masa depan dan pemerintahan Allah atas dunia. Daniel menunjukan bahwa hikmat dan kesetiaan kepada Tuhan lebih kuat dari pada kuasa dunia.

Dikatakannya, bagian terakhir dari kitab Daniel berisi tentang penglihatan Daniel berupa bergumulan umat Allah, penderitaan dan pengharapan akan kemenangan Allah diakhir zaman. Daniel mendengar dan melihat janji Tuhan bahwa sekalipun umatnya mengalami kesesakan besar, Allah tidak akan meninggalkan mereka. Ada tiba saat ada kebangkitan dan penghakiman, akan tiba masanya penglihatan dan nubuatan akan digenapi. Dan dalam penglihatan itu disebutkan ada sederetan orang-orang yang luput dari kesesakan yang terjadi. Orang-orang yang luput adalah orang-orang yang dibangunkan untuk mendapat hidup kekal, orang-orang bijaksana yang menuntun banyak orang pada kebenaran.

Kalau kita lihat, kitab Daniel 12 ini tidak berbicara langsung tentang dunia pendidikan, tentang universitas apalagi tentang dies natalis atau tentang ilmu pengetahuan tetapi gambaran yang diberikan Daniel tentang orang-orang bijaksana justru menawarkan prinsip-prinsip yang sangat relevan bagi panggilan pendidikan di masa kini. Apakah ilmu yang kita miliki hanya berhenti pada pencapaian pribadi, atau sungguh menjadi kekuatan yang membawa dampak dan memperdayakan masyarakat.

Melalui bacaan ini Firman Tuhan memperlihatkan bagaimana seharusnya ilmu dijalani dan digunakan dalam kehidupan. Dalam terang thema “Ilmu Berdampak, Masyarakat Berdaya”.

Menurut dia, pendidikan yang sejati seharusnya melahirkan orang-orang bijaksana, orang-orang berhikmat, bukan hanya orang-orang pandai. Kalau orang bijaksana dapat diartikan sebagai orang yang memiliki pengertian, memahami dengan benar, bertindak dengan bijaksana dan hidup seturut dengan kehendak Allah.

Jadi, orang bijaksana itu bukan sekedar orang yang punya setumpuk pengetahuan dan setumpuk gelar. Orang bijaksana adalah orang yang mengerti sungguh apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupnya, yang mampu membaca kenyataan dan realitas dengan benar, lalu berdasarkan hikmat Tuhan mengambil keputusan yang tepat. Dan pengetahuan mereka juga tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati membentuk karakter dan kemudian terlihat dalam tindakan setiap hari. “Kalau kita berilmu wawasan kita bertambah dan luas, memampukan kita untuk melihat dan menyerap fakta mana yang benar dan mana yang salah, sedang hikmat mengalahkan penggunaan wawasan dan ilmu itu dan membuat seseorang mengetahui apa yang seharusnya dilakukan,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa banyak persoalan yang terjadi bukan karena kurangnya ilmu tetapi karena kurangnya hikmat yang kemudian membentuk moralitas kita, integritas dan rasa tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama. Ilmu tanpa hikmat dapat berubah menjadi alat yang menguasai, kepintaran tanpa karakter yang baik dapat menjadi sarana yang untuk memperkaya diri sendiri. Kemampuan tanpa hati nurani dapat melahirkan keputusan yang melukai banyak orang.

Dunia saat ini sedang mengalami paradox. Kita hidup di jaman yang sangat maju secara teknologi tetapi belum tentu bijaksana secara moral, kita mampu mencipatakan kecerdasan buatan tetapi kita masih sulit membangun kejujuran. Kita memiliki banyak orang yang berpendidikan tinggi tetapi ketidak adilan juga masih terus terjadi. Ini paradox yang sedang terjadi.

Karena itu keberhasilan dalam dunia pendidikan tidak hanya diukur dari berapa banyak mahasiswa yang lulus, tetapi dari berapa banyak lulusan yang menjadi orang-orang bijaksana, pribadi-pribadi yang menggabungkan antara kemampuan intelektual dengan integritas, yang menggabungkan kecerdasan dengan kerendahan hati, yang menggabungkan profesionalisme dengan belas kasih serta yang menggabungkan ilmu dengan hikmat Allah.

Kepada 356 wisudawan semuanya mendapat pengakuan dan pencapaian akademik, tetapi sesungguhnya dalam kehidupan nyata masyarakat akan menilai seberapa jauh kalian berdampak dan menjadi orang berhikmat dengan gelar yang dimiliki. Masyarakat akan mengingat kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu yang kalian miliki.

Gelar memang dapat membuka pintu kesempatan, tetapi hanya hikmat yang dapat membuat seseorang dapat dipercaya sepanjang hidupnya. Hikmat selalu menghasilkan danpak. Menuntun banyak orang kepada kebenaran.

Orang bijaksana tidak selalu hidup untuk dirinya sendiri dan hikmat selalu mengalir keluar, hikmat selalu menghasilkan pengaruh yang baik. Maka berilmu dengan berlandaskan hikmat kepada Allah sesungguhnya adalah sebuah panggilan untuk melayani.

UNTRIB Kampus Perbatasan NKRI!
Ketua Pembina Yayasan Tribuana Kalabahi, Permenas Lama Kolly, SE dalam sambutannya mengatakan, Kampus Universitas Tribuana Kalabahi sejak awal kediriannya tercatat di Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi sebagai Kampus Perbatasan NKRI, karena berbatasan secara laut dengan Negara Baru Republik Demokrat Timor Leste (RDTL).

Dikatakan Permenas, sejak awal ketika Yayasan Tribuana yang dipimpinnya mempercayakan Pdt. Diana Meller-Takapaleta sebagai Rektor pertama hingga kini, kampus ini terus berkembang dan bertumbuh. Untrib sudah berbuah banyak bagi masyarakat di daerah ini.

Permenas mengajak para pendeta untuk terus berkunjung ke Kampus Untrib Kalabahi dan terus mendoakan melalui mimbar-mimbar gereja agar kampus ini terus tumbuh, berkembang dan berdampak bagi masyarakat.

Kampus ini terus tumbuh dari visi utama agar anak-anak desa memiliki kesempatan menyenyam pendidikan, Dahulu anak-anak orang besar saja yang bisa kuliah, tetapi begitu kampus ini ada, sesuai visi utama pendiri, patut kita syukuri karena 85 persen anak-anak petani bisa kuliah di kampus ini dan visi kita berhasil, sebut Permenas.

Untuk diketahui, UNTRIB melepas calon 366 wisudawan yang akan diwisuda pada Tanggal 1 Agustus 2026. 366 Calon Wisudawan itu tersebar di 5 Fakultas yakni, Fakultas MIPA (Prodi matematika, kimia dan teknik informatika), Fakultas Hukum (Prodi Ilmu Hukum), Fakultas Perikanan dan Pertanian (Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Perikanan, Agro Bisnis), Fakultas-KIP (Prodi IPT, Bahasa Inggris, PGSD, PG PAUD), Fakultas Ekonomi (Prodi Manajemen dan Pariwisata).

Dalam Ibadah Dies Natalis XIX dan Pelepasan Wisudawan Angkatan XVI itu dilakukan pemotongan tumpeng oleh Rektor UNTRIB Kalabahi Elia Maruly, SE, MM sekaligus memberi suap kepada Ketua Pembina Permenas Lama Kolly, SE dan para pejabat utama Yayasan Tribuana. *** morisweni

Pos terkait