Kurangi Kebocoran Sampah ke Laut, WWF-PFON Alor Gelar Sosialisasi dan Edukasi Pengelolaan Sampah

ALOR KECIL,RADARPANTAR,com-Untuk mengurangi kebocoran sampah ke laut serta dampaknya terhadap biota dan habitat laut, Yayasan WWF Indonesia melalui program Plastik Free Oceans Network (PFON) menggelar sosialisasi dan edukasi pengelolaan sampah berbasi masyarakat di Desa Alor Kecil, Rabu (29/10/2026). Kegiatan sosialisasi dan edukasi ini dihadiri instansi terkait milik pemerintah, pemerintah desa, sekolah, masyarakat, PFON Alor, PFON UNTRIB dan media masa.

Koordinator PFON Alor Mualim Prasong sedang memaparkan materi. FOTO:OM MO/RP

Bacaan Lainnya

Koordinator PFON Alor Mualim Prasong dalam kerangka acuan kepada media ini mengatakan, pemilihan lokasi kegiatan difokuskan pada area dengan mempertimbangkan nilai ekologis kawasan, keberadaan biota laut, potensi kebocoran sampah ke laut serta kebutuhan penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Desa Alor Kecil dipilih karena berada pada wilayah perairan yang menjadi jalur kemunculan mamalia laut, termasuk lumba-lumba, sehingga pengelolaan sampah dari daratan dan pesisir menjadi penting untuk mengurangi potensi sampah masuk ke perairan yang digunakan oleh biota tersebut.

Selain pertimbangan ekologis demikian Prasong, lokasi tersebut juga dipilih untuk mengembangkan praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk pemilahan, penyediaan titik pengumpulan dan mekanisme pengangkutan sampah secara berkala, sebagai bagian dari upaya pencegahan kebocoran sampah ke laut.

Yayasan WWF Indonesia melalui program PFON berkomitmen untuk berkontribusi dalam mengurangi pencemaran sampah plastik di laut Indonesia, khususnya pada wilayah yang memiliki aktivitas wisata bahari dan ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya pesisir dan laut.

Perkembangan aktivitas wisata bahari di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat meningkatkan timbulan sampah yang apabila tidak dikelola secara optimal, berpotensi mengalami kebocoran ke laut (marine waste leakage) dan memberikan dampak terhadap biota serta ekosistem laut.

Pengelolaan sampah yang efektif di wilayah pesisir menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata baHari sekaligus mengurangi potensi dampak sampah terhadap biota dan ekosistem laut.

Dalam konteks tersebut, penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan/atau komunitas diperlukan untuk mencegah sampah dari sumbernya hingga mencapai lingkungan pesisir dan laut.

PFON sebagai platform publik yang berfokus pada survei dan pemantauan sampah plastik di wilayah pesisir dapat berperan dalam mendukung upaya tersebut melalui penyediaan data lapangan mengenai karakteristik dan pola sampah sebagai dasar perencanaan pengelolaan, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat dan komunitas untuk meningkatkan kapasitas, membangun kesadaran, dan mendorong aksi kolaboratif dalam mengurangi kebocoran sampah ke laut.

Komunitas PFON Alor sendiri jelas Prasong telah aktif sejak tahun 2021– sekarang dengan secara aktif dan berkesinambungan dalam menggalang kegiatan riset dan pendataan kebocoran sampah plastik pesisir.

Kegiatan riset yang dilakukan bertujuan untuk mengumpulkan data terkait sumber sampah, data merek, jenis sampah dominan, ukuran, volume sampah dan beberapa indikator lainnya.

Melalui kegiatan ini, Yayasan WWF Indonesia bersama PFON, PFON-Untrib, masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait akan mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi kebocoran sampah ke laut, ungkapnya.

Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kolaborasi para pihak dalam pengelolaan sampah, memperkuat peran komunitas sebagai penggerak aksi di tingkat lokal, serta berkontribusi pada perlindungan biota dan ekosistem pesisir dan laut yang menjadi bagian penting dalam keberlanjutan wisata bahari.

Menurut Prasong, kegiatan ini nantinya dapat sekaligus menjadi media kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan pencegahan sampah agar tidak bocor ke lingkungan pesisir dan laut. Baik secara offline dengan keterlibatan masyarakat maupun secara online dengan publikasi hasil foto dan video selama kegiatan berlangsung.

Yang menarik demikian Prasong, pihaknya pernah mendapatkan sampah botol minuman dari Thailand. Ternyata sampah dari Thailand juga bisa sampai di Alor. Bisa saja hanyut dari Thailand datang atau penumpang kapal-kapal pesiar yang minum baru botolnya dibuang ke laut.

Dengan melakukan pendataan sampah laut baru kita ketahui bahwa ternyata sampah di Alor juga ada dalam kondisi tidak baik-baik saja. Kadang orang hanya ambil gambar yang baik-baik saja, seperti Pasar Alor Kecil yang tenar di tiktok atau pasar dengan view tercantik di Indonesia.

“Tetapi kebanyakan video itu paling foto orang jualan, ikan juga langsung di perahu. Dorang tidak berani suting di pinggir-pinggir pantai. Kita sendiri yang tau la. Dan itu yang kalau kita biarkan terus, ya kita tau ke depannya. Harus ada langka pencegahannya,” katanya dalam dialek Alor yang muda dimengerti dengan setengah tawa.

Kepala Bidang Dinas Lingkungan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Alor, Murni Halilu, S.Si yang membawakan materi dibawah judul Kondisi Sampah Pesisir di Kabupaten Alor, permasalahan, penyebab, dampak dan strategi pengelolaan berkelanjutan mengatakan, berbicara tentang wilayah pesisir tentunya tidak lepas dari keindahan pulau bawa laut Alor yang sudah sangat terkenal ke penjurus dunia.

Pejabat Dari DLH Murni Halilu sedang menyajikan materi. FOTO:OM MO/RP

Kondisi saat ini demikian Murni, kita tidak dituntut banyak, kita cuma dituntut bagaimana kita melakukan peran kita masing-masing sebagai masyarakat, pemerrintah daerah, pemerintah desa, sebagai pelaku usaha, sebagai akademisi dan tidak lupa apa peran media masa.
Melaui peran kita masing-masing bagaimana kita menjaga kelestarian dan keindahan bawa laut kita, terutama kawasan pesisir yang ada di Desa Alor Kecil.

Menurut Murni, tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana kita mengatasi sampah plastik dan pencemaran lingkungan yang ada di pantai. Kita tahu bahwa sampah yang ada di pesisir pantai atau di garis pantai itu bukan datang dalam satu waktu, bukan datang dalam satu termin tetapi itu merupakan akumulasi dari sampah-sampah yang mungkin tanpa kita sadari karena dengan kesibukan aktivitas kita masing-masing, selalu setiap waktu kita menyumbang beberapa kilo sampah.

Dia mengaku semua produk yang ada di Indonesia, ada kemasan coca cola, kemasan danon dan lain-lain ada di pantai kita. Untuk menjawab tantangan ini, dari Dinas Lingkungan Hidup, pihaknya sangat mendukung kegiatan pengelolaan sampah masyarakat berbasis masyarakat yang difasilitasi WWF lor.

“Diharapkan agar partisipasi dari kita semua, kita berperan aktif dengan peran yang ada pada kita masing-masing sampai dengan kegiatan Clean Up, Sabtu 31 Oktober,” pintanya.

Dia menaruh harap agar masyarakat dapat memahami kondisi sampah pesisir dan menyepakati langka penanganan berbasis bukti. Jadi, kita dituntut untuk mengenal lokasi, memahami dampak, menentukan aksi.

Penanggung Jawab Bidang Pariwisata Berbasis Bahari WWF Alor, Afdelia Delviana Bino Putri mengatakan, aktivitas wisata yang bertanggung jawab tidak terlepas dari bagaimana kita menjaga kelestarian lingkungan, salah satunya yakni membebaskan wilayah kita polusi plastik.

Afdelia Delfiana Bino Putri dari WWF Alor dalam sesi foto ketika menyampaikan materi. FOTO:OM MO/RP

Yayasan WWF secara nasional menurut Delvi mempunyai program laut bebas sampah plastik. Dan ini diterapkan di beberapa lokasi destinasi di Indonesia khususnya di wisata pesisir di seperti Labuan Bajo, di Derawan, di Alor, ada di Kalimantan Timur untuk mendukung pengelolaan sampah nasional untuk pengurangan 30 persen sampah plastik di lautan.

Di WWF sendiri demikian Delvi, konsep dalam mengelola sampah itu melalui edukasi dan peningkatan kesadaran. Salah satunya adalah kita ada pendampingan komunitas kelompok anak-anak muda yang juga turut hadir dalam kegiatan ini. Ada Komunitas Plastik Free Ocean Networ Kabupaten Alor yang merupakan bagian dari Universitas Tribuana Kalabahi smelalui Unit Kegiatan Mahasiswa.

“Mereka adalah anak-anak muda yang memang tertarik dengan isu sampah,” ujarnya sembari menegaskan jika di Alor sudah ada tim penggerak sampah.

Dia kemudian merinci apa yang dilakukan komunitas anak-anak muda ini, antara lain mereka adalah komunitas anak muda berbasis scienci, melakukan pendataan sampah baik sampah pesisir maupun sampah rumah tangga untuk melihat fluktuasi atau kondisi sampah di Alor secara secara berkala.

“Data-data ini akan kita olah dan menjadi data suport untuk pemerintah daerah, mungkin jadi referensi dalam pengambilan keputusan,” ungkapnya.

Selain mendata potensi sampah, pihaknya juga mendata merek-merek sampah apa saja yang paling banyak di Alor. Di Tahun 2026 ini kita mendapati 5 teratas sampah plastik, salah satunya itu sampah gelas flow, disusul ada mie sedap, ada rinso dan disusul bungkus masako.

Di Tingkat Nasional WWF ada program nasional dimana prudusen bertanggung jawab terhadap sampah yang dimiliki. Jadi, kalau ada perusahaan flow, harusnya dia bertanggung jawab terhadap sampah-sampah flow yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Menurut data yang dimiliki WWF, di 5 pantai besar di Alor itu sampah paling banyak itu ada flow yang sebenarnya bisa kita bawa ke perusahan itu untuk bisa interpensi mengatasinya dengan program CSR.

Di WWF juga jelas Delvi ada advokasi kebijakan berbasis data sampah, ada penerapan teknologi dan inovasi, peningkatan dan penguatan kapasitas dan ada kampanye pengurangan sampah.

Site Coordinator Alor MPA WWF-ID, Yoga Sultan Fayra mengatakan, kegiatan yang dilakukan saat ini akan kita lanjutkan dengan aksi bersih di kawasan pesisir Desa Alor Kecil, Sabtu, 31 Oktober 2026 sebagai langka awal pengelolaan sampah di Desa Alor Kecil yang lebih baik. Alor Kecil tidak hanya memiliki potensi pariwisata tetapi potensi perikanan juga sangat menjanjikan.

Site Coordinator MPA WWF-ID Yoga Sultan Fayra. FOTO:OM MO/RP

Lokasi Aksi Bersih Pesisir atau Aksi clean-up yang akan kita lakukan nanti itu berdasarkan hasil observasi dan pemantauan, teridentifikasi memiliki potensi kebocoran sampah ke laut, dengan prioritas pada lokasi yang memiliki ekosistem pesisir penting.

“Apa yang kita lakukan saat ini merupakan langka kecil atau langka awal untuk mendukung sektor pariwisata dan peningkatan hasil tangkapan nelayan di wilayah ini,” ungkapnya.


Pengelolaan sampah dalam lingkup kecil di Desa Alor kecil ini jika berhasil maka harapannya di lokasi lain, kita laksanakan dengan cara yang sama, ujar Yoga sembari berharap agar sampah-sampah yang ada di laut itu tidak makin banyak. Ia tidak percaya sampah-sampah yang di laut itu dihasilkan lebih banyak dari laut itu sendiri dan bermuara di pesisir. *** morisweni

Pos terkait