ALOR KECIL-RADARPANTAR.com-Yayasan WWF Indonesia dan Plastik Free Oceans Network (PFON) gandeng pemerintah desa Alor Kecil, instansi teknis, tokoh masyarakat, pekerja media, sekolah,UMKM LIPA, UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya, Aliansi Bahari Alor dan Lazy Turtle Dive Alor melakukan aksi bersih pesisir di Desa Alor Kecil, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor.

Aksi pembersihan di pesisir pantai Desa Alor Kecil. FOTO:ITM
Aksi bersih pesisir di Pantai Desa Alor Keclil yang dilaksanakan, Sabtu (31/10/2026) ini merupakan bagian dari sosialisasi dan edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Desa Alor Kecil, Kamis (29/10/2026) yang digelar di Kantor Desa Alor Kecil.
Aksi bersih pesisir di Desa Alor Kecil ini melibatkan 42 peserta yang yang berasal dari Dinas Lingkungan Hidup Kab Alor, Kepala Desa dan Perangkat Desa Alor Kecil, Masyarakat Desa Alor Kecil, Guru-guru dan Siswa/i SMP Muhamadiyah Ekosari Alor Kecil, Dinas Pariwisata Kabupaten Alor, Plastic Free Ocean Network (PFON) Kabupaten Alor, Plastic Free Ocean Network (PFON) Universitas Tribuana Kalabahi, UMKM LIPA (Lingkungan dan Pangan Lokal) Alor, UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya, Aliansi Bahari Alor, Lazy Turtle Dive Alor dan Yayasan WWF Indonesia.

Pembersihan bak sampah. FOTO:ITM
Menurut Site Coordinator Alor MPA WWF-ID, Yoga Sultan Fayra, aksi bersih pesisir di Desa Alor Kecil ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari upaya penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk mengurangi kebocoran sampah ke laut.
Selain melakukan aksi bersi pesisir bersama mitra terkait diatas, dalam aksi ini juga dilakukan pembersihan dan pengangkutan sampah di 2 (dua) bak sampah sementara yang sudah menumpuk cukup lama di Desa Alor Kecil, detailnya di pesisir Desa Alor Kecil atau di Area Pasar Rakyat Desa Alor Kecil.

Peserta aksi bersih pesisir pantai Desa Alor Kecil dengan karung yang berisi sampah. FOTO:ITM
Kegiatan ini kata Yoga berhasil mengumpulkan total 662,6 Kg sampah, yang terdiri atas 1,8 Kg plastik keras, 50,91 Kg plastik lunak, 24,78 Kg botol kaca, 6,5 Kg kardus, 574,91 Kg residu dan 3,7 Kg sampah lainnya. “Sampah residu ini menjadi kategori yang terbanyak dikarenakan banyak sampah-sampah plastik yang sudah lama yang tercampur oleh tanah,” ujarnya sembari menambahkan, adapun sampah tanah yang terdapat didalam bak sampah Alor kecil yang telah dibersihkan mencapai 480 Kg.
Aksi Bersih Pesisir Aksi clean-up dilakukan di Desa Alor Kecil yang berdasarkan hasil observasi dan pemantauan teridentifikasi memiliki potensi kebocoran sampah ke laut, dengan prioritas pada lokasi yang memiliki ekosistem pesisir penting.

Pemindahan sampah dari bak sampah. FOTO:ITM
Koordinator Komunitas Plastic Free Ocean Network Alor (PFON), Mualim Prasong mengatakan, Desa Alor Kecil dipilih karena berada pada wilayah perairan yang menjadi jalur kemunculan mamalia laut, termasuk lumba-lumba, sehingga pengelolaan sampah dari daratan dan pesisir menjadi penting untuk mengurangi potensi sampah masuk ke perairan yang digunakan oleh biota tersebut.
Selain pertimbangan ekologis demikian Prasong, lokasi tersebut juga dipilih untuk mengembangkan praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk pemilahan, penyediaan titik pengumpulan dan mekanisme pengangkutan sampah secara berkala, sebagai bagian dari upaya pencegahan kebocoran sampah ke laut.

Kawasan Pesisir Desa Alor Kecil yang menjadi sasaran aksi pembersihan. FOTO:ITM
Yayasan WWF Indonesia melalui program PFON berkomitmen untuk berkontribusi dalam mengurangi pencemaran sampah plastik di laut Indonesia, khususnya pada wilayah yang memiliki aktivitas wisata bahari dan ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya pesisir dan laut.
Perkembangan aktivitas wisata bahari di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat meningkatkan timbulan sampah yang apabila tidak dikelola secara optimal, berpotensi mengalami kebocoran ke laut (marine waste leakage) dan memberikan dampak terhadap biota serta ekosistem laut.
Pengelolaan sampah yang efektif di wilayah pesisir menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata baHari sekaligus mengurangi potensi dampak sampah terhadap biota dan ekosistem laut.
Dalam konteks tersebut, penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan/atau komunitas diperlukan untuk mencegah sampah dari sumbernya hingga mencapai lingkungan pesisir dan laut.

PFON sebagai platform publik yang berfokus pada survei dan pemantauan sampah plastik di wilayah pesisir dapat berperan dalam mendukung upaya tersebut melalui penyediaan data lapangan mengenai karakteristik dan pola sampah sebagai dasar perencanaan pengelolaan, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat dan komunitas untuk meningkatkan kapasitas, membangun kesadaran, dan mendorong aksi kolaboratif dalam mengurangi kebocoran sampah ke laut. *** morisweni






