Tepis Ancaman AI Bagi Jemaat, PGI Hadirkan Komisi PDAI Gelar Diskusi Cari Solusi

Suasana diskusi di sidang MPH PGI yang dipusatkan di Aula Gereja Pola Kalabahi. FOTO:HUMASTIMPEL

KALABAHI,RADARPANTAR.com-PGI tidak rela jika warga gereja menjadi korban teknologi digital yang berkembang pesat saat ini. Karena itu, PGI memanfaatkan sidang MPH PGI di Alor dengan mengundang pembicara dari Komisi Komisi Pengembangan Digital dan Artificial Intelligence (AI),  berdiskusi dan mencari solusi terhadap ancaman AI.

Hadir sebagai narasumber utama, Gildas Deograt Lumy dari Komisi Pengembangan Digital dan Artificial Intelligence (AI), memaparkan materi yang membuka mata para pemimpin gereja yang hadir. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bergerak cepat mengedukasi warganya agar tidak tergilas oleh arus modernisasi.

Bacaan Lainnya

Diskusi terbatas ini dilakukan di Aula Gereja Pola, Kalabahi, Jumat (22/05/2026) sebagai bagian dari Sidang Majelis  Harian (MPH) PGI dan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 PGI yang berlangsung di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, 21–26 Mei 2026.

Diskusi yang mengusung tema “Tantangan Dunia Digital dan AI bagi Gereja dan Secure Platform bagi Gereja-Gereja Indonesia” ini dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2026, bertempat di Aula Gereja Pola Tribuana Kalabahi, Alor.

Acara ini dihadiri oleh 43 peserta yang terdiri dari MPH PGI, dan utusan pimpinan gereja-gereja Anggota PGI di Indonesia, para pendeta dari Klasis-Klasis GMIT se-Tribuana Alor dan gereja denominasi.

Hadir sebagai narasumber utama, Gildas Deograt Lumy dari Komisi Pengembangan Digital dan Artificial Intelligence (AI), memaparkan materi yang membuka mata para pemimpin gereja yang hadir.

Dalam paparannya, Gildas mengupas tuntas bagaimana kecerdasan buatan (AI) membawa disrupsi radikal bagi masa depan generasi Gereja dan bangsa.

Menurutnya ancaman nyata AI bagi Gereja adalah, risiko distorsi iman akibat konsumsi informasi keagamaan yang dipersonalisasi oleh algoritma tanpa penyaringan teologis yang benar, ancaman kecanduan digital, hingga potensi terkikisnya esensi persekutuan fisik (fellowship) di dalam gereja.

Sementara itu ancaman AI bagi bangsa dan negara dalah Ancaman penyebaran hoaks berbasis deepfake yang kian canggih, polarisasi sosial, serangan siber pada data personal warga, serta potensi hilangnya lapangan kerja massal yang dapat memicu ketimpangan ekonomi baru.

Melalui diskusi ini, jemaat Tuhan dan masyarakat luas diberikan peringatan keras untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi yang pasif. Jemaat dituntut untuk meningkatkan kecakapan digital (literasi digital) dan bersikap cerdas serta kritis dalam mengadopsi teknologi AI, agar kemajuan ini tidak merusak tatanan moral dan spiritual.

Gildas meminta seluruh Gereja-gereja Tuhan untuk berjaga-jaga di era digital. Ia mengajak gereja untuk menyikapi fenomena ini agar memberikan penguatan teologi yang relevan. Gereja diingatkan kembali pada amanat Alkitab untuk senantiasa “Berjaga-jaga” (1 Petrus 5:8).

Teologi berjaga-jaga di era AI bukan berarti menjauhi teknologi secara ekstrem, melainkan membangun benteng spiritualitas yang kokoh, memiliki daya kritis (discernment) untuk menguji setiap roh dan informasi di dunia maya, serta memastikan bahwa teknologi tetap diposisikan sebagai alat pelayanan, bukan pengganti Tuhan atau esensi kemanusiaan itu sendiri.

Diskusi interaktif ini memantik respons positif dari para peserta. Salah satu peserta, Pdt. Simon Petrus Amung, membagikan kesan dan pesannya yang mendalam mengenai materi ini.

“Diskusi ini betul-betul membuka mata kami sebagai hamba Tuhan. Selama ini kita mungkin melihat AI dan dunia digital hanya sebagai alat bantu biasa, tetapi hari ini kami disadarkan bahwa ada ancaman serius terhadap moralitas dan spiritualitas jemaat jika tidak diantisipasi dengan baik,” ungkap Pdt. Simon Petrus Amung.

Pdt. Simon Petrus yang juga menjabat Koresponden KMK Se-Tribuana Alor ini juga menitipkan pesan penting bagi rekan-rekan pendeta dan pelayan jemaat pasca-kegiatan ini.

“Pesan saya, kita para pendeta di klasis dan jemaat tidak boleh tabu lagi dengan teknologi, tetapi harus belajar untuk menguasainya. Kita harus mampu menuntun jemaat agar tidak tersesat di dunia maya, dan menjadikan gereja sebagai benteng pertahanan iman yang adaptif namun tetap kudus di era AI ini,” tegasnya.

Ketua Tim Pelaksana Sidang MPH PGI, Obeth Bolang, dalam kesempatannya menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi dan ucapan terima kasih yang mendalam atas terselenggaranya seminar yang dinilai sangat baik dan kontekstual ini.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada PGI yang telah menggagas seminar terbatas yang luar biasa ini. Ini adalah langkah maju yang sangat krusial bagi kita semua umat Tuhan terutama bagi pelayanan Gereja di Indonesia dan di Tribuana Alor,” ujar Obeth.

Pnt. Obeth Bolang juga menaruh harapan besar agar materi yang didapatkan dari seminar ini tidak berhenti di dalam ruangan aula saja.

“Harapan kami, melalui seminar ini, jemaat-jemaat Tuhan di Tribuana Alor dapat menjadi jemaat yang melek teknologi, tidak mudah terombang-ambing oleh arus negatif digitalisasi, melainkan mampu memanfaatkannya dengan bijak untuk kemuliaan nama Tuhan,” tambahnya.

Melalui momentum Sidang MPH PGI dan HUT ke-76 ini, gereja-gereja di Indonesia—khususnya di Bumi Alor diharapkan dapat melangkah bersama membangun secure platform (platform yang aman) demi memproteksi data, pelayanan, dan masa depan iman jemaat dari berbagai ancaman kejahatan siber. *** morisweni

Pos terkait