Ketua DPRD Alor Ancam Pidanakan Jusran Tahir dkk, Buku Alor Damai Ditarik Dari Peredaran

Suasana pertemuan antara tim Mediasi Alor Damai yang dipimpin Drs. H. Jusran Tahir dengan Ketua DPRD Alor, Jumat (17/09). Pertemuan dipimpin Wakil Ketua DPRD Alor Sulaiman Sings, SH. FOTO:ISTIMEWAH
Suasana pertemuan antara tim Mediasi Alor Damai yang dipimpin Drs. H. Jusran Tahir dengan Ketua DPRD Alor, Jumat (17/09). Pertemuan dipimpin Wakil Ketua DPRD Alor Sulaiman Sings, SH. FOTO:ISTIMEWAH

KALABAHI,RADARPANTAR.com-Ketua DPRD Kabupaten Alor, Enny Anggrek, SH tersinggung berat dan merasa difitnah melalui sebuah buku yang diterbitkan tim mediasi Alor damai yang dipimpin Drs. H. Jusran Tahir.  Buku dengan judul Alor Damai itu akhirnya ditarik dari peredaran setelah orang nomor satu di DPRD Alor itu mengancam menggiring Jusran Tahir dan sejumlah tokoh berurusan dengan aparat penegak hukum. Selain menarik buku, tim mediasi Alor Damai juga menyampaikan permohonan maaf kepada Anggrek dalam pertemuan yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Alor Sulaiman Sings, SH, Jumat (17/09).

Untuk diketahui, Tim Mediasi Alor Damai yang dipimpin Tahir berhasil mengemban tugas mulia mendamaikan Bupati Alor Drs. Amon Djobo dan Ketua DPRD Alor Enny Anggrek yang yang terlibat dalam konflik beberapa waktu belakangan.  

Bacaan Lainnya

Setelah berhasil mengemban tugas mulia ini, tim mediasi yang beranggotakan Pdt. Jacobus Pulau, S.Th, Pdt. Kondrat Penlaana, S.Th, H. Abdul Kadir Kawali, RD. Marselinus Seludin, Pr, I Made Warta, Muhammad Bere, SH, Husen Tolang, SH, M.Hum, Ir. Dorsila Pulinggomang dan Denny Lalitan, tim ini merangkum semua proses yang dilakukan ke dalam sebuah buku.  

Selain tidak mengakomodir sebagian besar pernyataannya dalam proses mediasi menuju perdamaian, selaku Ketua DPRD Alor, Enny Anggrek  merasa difitnah secara keji melalui pernyataan salah anggota tim mediasi, Denny Lalitan yang dirilis dalam buku Alor Damai itu bahwa “Secara pribadi saya kuatir ibu ketua punya kejiwaan, karena orang normal tidak akan mengambil langka sejauh ini karena di dalam keluarga kandung bermasalah, keluarga ipar bermasalah, di DPRD bermasalah, proyek bermasalah”.  

Ketua Tim Mediasi Alor Damai, Drs. H. Jusran Tahir sedang merapikan buku Alor Damai yang ditarik dari beberapa anggota tim mediasi yang hadir dalam pertemuan antara Tim Mediasi Alor Damai dengan Ketua DPRD Alor, Enny Anggrek, SH. FOTO:ISTIMEWAH

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Alor ini juga mempertanyakan mengapa pernyataan Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Drs. Sony Alelang itu dimuat lengkap dalam buku yang diterbitkan Tim Mediasi Alor Damai sementara pernyataannya dalam proses menuju perdamaian itu ditulis setengah-setengah.  

Ketua Tim Mediasi Alor Damai DRs. H. Jusran Tahir sementara menunjukan buku yang ditarik dari anggota tim mediasi dalam pertemuan bersama antara Tim Mediasi dan Ketua DPRD Alor, Jumat (17/09) yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Alor Sulaiman Sings, SH. FOTO:ISTIMEWAH

Anggrek mengaku menerima buku yang dikemas dalam sebuah ampolp berwarna coklat yang bertuliskan cerna dan kaji ini pada tanggal 6 Agustus 2021 dan baru membacanya pada tanggal 7 Agustus 2021. Tidak tahu siapa yang mengirim buku dimaksud.  

Merasa dilecehkan, Ketua DPRD Kabupaten Alor melayangkan protes kepada Ketua Tim 9, Drs. H. Jusran Tahir melalui pesan whatsapp selaku Ketua Tim pada tanggal 12 September 2021.  

Berikut isi pesan yang disampaikan Ketua DPRD Alor kepada Jusran Tahir selaku Ketua Tim Mediasi Alor Damai:  “Yth. Ketua Team Mediasi Alor Damai ( Bpk. Yusran Tahir) di Kalabahi.        Dengan Hormat.  Dengan ini Saya Menyampaikan Kepada Bapak Ketua bahwa Sejak tgl  6 Agustus 2021 Saya mendapatkan Kiriman Buku Hasil Kerja Tim Mediasi Kabupaten Alor  Damai yg didalamnya Termuat isi antara lain Sekapur Siri oleh Ketua Tim Mediasi tertgl 13 Juli 2021 dan Pertemuan Ke 1 dgn Hadir 142 Org, dgn Rapat pd point 2 a-m Hanya Fitnahan dan Tuduhan yg TIDAK BENAR kepada Saya dan Jabatan Sy sbg Ketua Dprd Kab Alor, aplg pd point 3.Penyampaian Pikiran dan Usul Saran yg Tertulis ada indikasi Rasis dll yg di tulis apalagi pada Pertemuan Ke 2 hingga menyampaikan Tuduhan “IBU KETUA PUNYA MASALAH KEJIWAAN” ini Kata2 yg KEJI terhadap Jabatan Sy sbg KETUA DPRD, Maka Sy minta pertanggung Jawab Bpk sbg Ketua Tim Mediasi utk Menghadirkan Ketua dan Tim Mediasi di Kantor DPRD utk Tanggal 16 atau 17 September 2021 untuk Penyelesaian Silahkan Bpk. Ketua Tim buat Undangan utk Anggota Hadir di Kantor DPRD, utk Klarifikasi,  jika Tgl tsb tidak Hadir maka Sy Mohon Maaf untuk menempuh JALUR HUKUM sesuai HUKUM PIDANA Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik dgn Kesengajaan mencetak Buku dan Mengedarkanya Terhadap Saya secara Pribadi maupun Jabatan Ketua DPRD, Terima Kasih atas Perhatiannya.        Salam Hormat                ENNY ANGGREK, SH,”.

Didampingi Ketua DPRD Alor, Enny Anggrek, SH, Wakil Ketua DPRD Alor Sulaiman Sings, SH sedang memimpin pertemuan dengan Tim Mediasi Alor Damai, Jumat (17/09). FOTO:ISTIMEWAH

Menindaklanjuti pesan WA dari Ketua DPRD Alor ini, Ketua Tim Mediasi Alor Damai H. Jusran Tahir mengeluarkan surat undangan kepada anggota tim untuk bertemu dengan Ketua DPRD pada, Jumat (17/09). Surat dikeluarkan tanggal 16 September 2021.   

Dalam pertemuan yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Alor, Sulaiman Sings, SH itu disepakati untuk menarik kembali semua buku Alor  Damai yang sudah beredar.  

Salah seorang anggota tim mediasi H. Abdul Kadir Kawali dalam pertemuan itu menyarankan agar buku itu sebaiknya dimusnahkan atau dibakar tetapi Ketua Tim mediasi menilai saran Kawali itu sama saja dengan tidak menghargai hasil kerja tim mediasi Alor Damai. Karena itu disepakati, semua buku yang telah beredar dapat ditarik kembali.  

Anggota Tim Mediasi Alor Damai lainnya, RD. Marselinus Seludin, Pr ketika dikonfirmasi di Pastori Paroki Gembala Yang Baik, Kamis malam (17/09) mengaku sudah membakar buku Alor Damai yang diantar entah oleh siapa.   “Saya lupa tanggal berapa buku itu ada disini. Tetapi orang datang taruh saja di itu meja,” kata Marselinus sampai mengarahkan telunjuk ke arah meja yang berada di sisi kiri di atas teras samping pastori. “Saya   lihat ho ya … buku mediasi. Saya bawa simpan di dalam. Kemudian ada waktu kosong jadi saya baca. Koq kita sudah mediasi damai kemarin koq kenapa ada buku lagi segala macam,” ungkapnya.

Setelah membaca buku itu demikian Marselinus, sebagai tim mediasi mestinya kita hadir sebagai penengah, tetapi seolah-olah menjadi hakim untuk orang.

“Saya juga tidak mau menyimpan dokumentasi yang seperti itu sehingga saya bakar to. Karena tidak ada manfaat untuk saya karena siapa yang mengeluarkan buku, siapa yang bertanggung jawab, siapa yang tim editor … tidak ada,” tandasnya.  

Selanjutnya demikian Marselinus, kalau seadainya ada ini buku harusnya ada pemberitahuan kepada kita tentang tulisan dalam buku itu untuk diberikan klarifikasi setelah diedit  … ini tidak ada. “Kita pung tujuan itukan mau damai … kalau orang sudah damai ya mau apa lagi to. Untuk apa ko kita meninggalkan kita pung catatan lagi, saya pikir itu akan menambah soal. Karena saya pikir begitu itu yang saya bakar. Setelah saya bakar, pada tanggal 18 Agustus 2021 kami diundang Pemda. Katanya sudah mediasi jadi mau minta terima kasih,” ujarnya.

Dalam pertemuan yang dihadiri tim mediasi bersama asisten 1 Setda Alor Fredrik Lahal itu Marselinus mengaku mengatakan, sebagai tim mediasi, ia merasa malu dengan terbitnya buku Alor Damai karena itu ia sudah membakar buang buku dimaksud. “Saya bakar itu buk karena saya tidak suka, kapan kamu minta saya ko edit itu buku. Buku yang keluar itu harus kita lihat dan edit bersama,” terangnya sembari menambahkan, karena itu ia membakar buku dimaksud dan tidak mau menyimpannya. Takut suatu ketika nanti dibaca oleh umat dan umat bertanya mengapa ia menyimpan buku seperti itu. Merselinus malah menyarankan dalam pertemuan itu kepada  tim mediasi untuk membakar  buku yang telah diterbitkan, untuk kita simpan tetapi tidak ada yang memberikan respon. “Kalau tidak salah pas mau pulang Pak Denny Lalitan yang bilang Romo itu buku tidak apa-apa. Tapi saya bilang untuk saya si … tapi untuk bapak  pasti tidak,” ungkapnya.

Menurut dia, karena buku ini keluar atas nama tim sehingga mestinya tim ini duduk bersama untuk merumuskan penerbitan. Tetapi yang terjadi tidak seperti itu … itu yang buat saya malu, karena berita di dalam kan tidak seimbang. “Yang rapat dengan saya itu tidak tulis, termasuk ibu Enny,” katanya menambahkan.

Sebagai tim terang Marselinus, mestinya kita netaral dan mengayomi. Tetapi karena saya tidak suka isi buku sehingga saya bakar. Dia mengaku tidak mengikuti rapat terbaru yakni tanggal 17 September 2021 dengan Ketua DPRD Alor karena ada dalam urusan melayani pemberkatan nikah umatnya. *** RP/MW

Pos terkait